Home » Inspirasi » Riwayat

Sutan Syahrir, Sang Demokrat Sejati

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

NAMANYA tak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya republik ini. Sutan Syahrir, seorang pemikir,  perintis, dan revolusioner kemerdekaan Indonesia. Berjuluk “Si Kancil” dan juga “The Smiling Diplomat”, dialah Perdana Menteri pertama Indonesia, dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947.

Syahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909, di bawah bayangan dua gunung, Merapi dan Singgalang. Ayahnya bernama Mohamad Rasad gelar Maharadja Soetan, asal dari kota Gadang. Ibunya Poetri Siti Rabiah asal dari Natal, daerah pantai bagian Selatan Tapanuli, dari keluarga raja-raja lokal swapraja.

Orangtua Syahrir merupakan orang terpandang di Sumatera. Ayahnya menjabat sebagai penasihat Sultan Deli dan juga kepala jaksa (landraad) pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Karena lahir di keluarga yang kondisi ekonominya berkecukupan, Syahrir masuk di sekolah terbaik ketika itu. Ia memulai pendidikannya di ELS (Europeesche Lagere School) atau setingkat sekolah dasar.

Setelah menyelesaikan pendidikan di ELS, ia lalu masuk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat sekolah menengah pertama atau SMP. Di sini, ia kemudian banyak membaca buku-buku asing terbitan Eropa dan juga karya-karya sastra dari luar. Tamat dari MULO pada 1926, ia pindah ke Bandung dan bersekolah di AMS (Algemeene Middelbare School) yang merupakan sekolah termahal dan terbaik di Bandung. 

Di AMS, ia menjadi siswa terbaik. Syahrir banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku terbitan Eropa dan juga mengikuti klub kesenian di sekolahnya. Ia juga aktif dalam klub debat di AMS. Selain itu, ia juga mendirikan sekolah bernama Tjahja Volksuniversiteit (Cahaya Universitas Rakyat) yang ditujukan untuk anak-anak buta huruf dan dari keluarga yang kurang mampu.

Pengalamannya dalam berorganisasi di sekolah membawanya terjun ke dalam dunia politik. Ia dikenal sebagai penggagas berdirinya Jong Indonesië (Himpunan Pemuda Nasionalis) pada 20 Februari 1927, yang kemudian mengubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia inilah yang menjadi penggerak dimulainya Kongres Pemuda Indonesia, yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928.

Tamat dari AMS, ia melanjutkan kuliahnya di Belanda, masuk Fakultas Hukum Universitas Amsterdam, Belanda. Di sana, Syahrir banyak mempelajari teori-teori sosialisme hingga kemudian ia dikenal sebagai seorang sosialis yang cenderung ke “kiri” dan bersikap radikal terhadap hal-hal yang berbau kapitalisme. Di Belanda juga, Syahrir bergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang dipimpin Mohammad Hatta.

Khawatir akan aksi-aksi yang dilakukan oleh organisasi pergerakan pemuda Indonesia, Pemerintah Belanda dengan ketat mengawasi bahkan melakukan aksi razia seperti memenjarakan para pemimpin pergerakan, semacam Soekarno. Bersama dengan Mohammad Hatta, Syahrir selalu menyerukan untuk melakukan pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Mereka menuangkan tulisan melalui majalah Daulat Rakjat.

Prihatin melihat menurunnya semangat pergerakan di Indonesia akibat pengawasan pemerintah kolonial Belanda yang ketat, membuat Sutan Syahrir pada 1931 memilih berhenti kuliah, kemudian kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia.

Pengalamannya dalam berorganisasi ketika masih menjadi pelajar dan juga ketika kuliah di Belanda membuat ia segera bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI Baru) yang diketuainya pada 1932. Sebagai tokoh yang memiliki pandangan sosialis, Sutan Syahrir juga ikut tergabung dalam pergerakan buruh. Tulisan-tulisan Syahrir tentang perburuhan ia tuangkan dalam majalah Daulat Rakjat, dan sering berbicara mengenai buruh di forum-forum politik, sehingga membuat Sutan Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.

Akhirnya, pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pascakemerdekaan Indonesia, Syahrir ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, dan menjadi perdana menteri termuda di dunia yakni berusia 36 tahun.

Syahrir kemudian dikenal sebagai diplomat muda yang ulung berkat pidatonya ketika ia mewakili Indonesia di Sidang Umum PBB. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri, ia menjadi penasihat Presiden Soekarno dan juga sebagai Duta Besar untuk Indonesia.

Berbagai peran Syahrir dalam perjuangan dan pembinaan Indonesia merdeka itu tidak serta-merta membuat ia diperlakukan dengan baik. Hingga pada ujung usianya sejak 16 Januari 1962, ia ditangkap dan dipenjarakan, bahkan sampai Sjahrir meninggal dunia pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss, ia masih menyandang status tahanan. Di usia 57 tahun, ia meninggalkan istrinya (Poppy Sjahrir) dan kedua anaknya (Buyung dan Upik). Dalam sambutan pelepasan terakhir, Moh. Hatta mengatakan:

“Sutan Sjahrir yang mengandung dalam kalbunya cita-cita besar itu, hidupnya hanya berjuang, menderita, dan berkorban untuk menciptakan, supaya rakyat Indonesia merdeka dari segala tindasan. Ia meninggal dengan tiada mencapainya. Ia berjuang untuk Indonesia merdeka, melarat dalam perjuangan Indonesia merdeka, ikut serta membina Indonesia merdeka, tetapi ia sakit dan meninggal dunia dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka.”

Tak apalah. Hidup, bagi Syahrir, harus dipertaruhkan. Karena jika tidak, tak akan pernah dimenangkan. Jika ditarik dalam konteks politik, di mana ia banyak menghabiskan waktunya, Syahrir melihat politik sebagai sikap mempertaruhkan hidup untuk memenangkan hidup. Baginya, politik lebih dari sekadar matematika juga pragmatisme simplistis, tapi melibatkan juga eksistensial dalam wujudnya (melibatkan rasionalitas) dan politik lebih mirip suatu etika yang menuntut agar suatu tujuan yang dipilih harus dapat dibenarkan oleh akal sehat yang dapat diuji, dan cara ditetapkan untuk mencapainya haruslah dapat dites dengan kriteria moral.

Syahrir mengajarkan konsepsi bahwa politik tidak melulu tentang kekotoran tapi juga suatu keindahan, tidak hanya tentang tipu muslihat tapi ada nilai luhur, dan tidak hanya kepentingan kecil yang diucapkan dengan kata-kata besar tapi cita-cita besar yang dipertaruhkan dalam beberapa langkah kecil. Maka itu, dalam setiap gerak politiknya, ia melaksanakannya dengan hati-hati dan dengan penuh tanggung jawab. 

Kata Rosihan Anwar, kemanusiaan selalu utama dalam pemikian Syahrir. Sang Demokrat sejati, pejuang kemanusiaan, pahlawan nasional.

Penulis Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

Sutan SyahrirDemokrat SejatiRiwayat

loading...