logo rilis
Susah Berhenti Merokok, Coba Intip Tips dari KABAR
Kontributor
Elvi R
21 April 2018, 20:15 WIB
Susah Berhenti Merokok, Coba Intip Tips dari KABAR
Anggota KABAR. FOTO: Dok. KABAR

RILIS.ID, Jakarta— Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka prevalensi rokok di Indonesia naik 27 persen pada 1995 menjadi 36,3 persen pada 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia mengalami darurat rokok.

Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) menyebut, banyak orang ingin berhenti merokok, tapi sulit untuk melakukannya. Ketua KABAR Dr Amalia mengatakan, kesulitan utama perokok untuk berhenti karena adanya zat nikotin yang terkandung di dalam rokok. Sehingga, perokok merasa cepat lelah, tidak bisa berkonsentrasi dan loyo jika tidak menghisap rokok.

"Padahal saat mereka menghisap rokok konvensional dengan cara membakar rokok, ada zat lain yang ikut masuk, yakni TAR. Zat itu yang berbahaya bagi kesehatan kita. TAR merupakan zat yang tercipta karena pembakaran yang dilakukan di semua barang," ujar Dr Amaliya, di Jakarta, Jumat (21/4/2018).

Dr Amaliya menjelaskan, selama ini ada berbagai metode untuk menyembuhkan orang dari ketergantungan rokok konvensional. Diantaranya dengan permen yang memiliki kadar nikotin, koyo nikotin serta, terkini ada vape.

"Vape juga bisa membantu menyembuhkan ketergantungan pada asap rokok. Sama seperti produk lainnya, vape hanya memenuhi unsur nikotin yang dibutuhkan tubuh, lama-lama dosisnya akan dikurangi dan pada akhirnya berhenti merokok," katanya.

Menurutnya, pemakaian vape cukup aman dibandingkan dengan penggunaan rokok konvensional. Asalkan, vape digunakan dalam ambang batas toleransi tubuh. 

"Bisa digunakan asal jangan berlebihan, kalau sudah 10 botol likuid vape ya itu sudah terlalu banyak. Selama ini masih ambang batas masih bisa diterima tubuh," ungkap Dr Amaliya.

pembina Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) Dimasz Jeremia mengatakan, berdasarkan pengamatan KABAR selama setahun terakhir, banyak perokok yang mulai sadar bahaya yang mengintai diri mereka jika tetap mengonsumsi rokok. Namun, berkaca dari pengalamannya sebagai perokok adiktif selama belasan tahun, Dimasz mengakui sangat sulit untuk berhenti merokok.

“Untuk dapat berhenti itu menurut saya seperti menyusun proyek berjangka yang mana kita tidak bisa mendapatkan hasil instan dalam waktu cepat, karena susahnya bukan main. Ini saya alami sendiri ketika dulu saya mencoba untuk berhenti merokok. Saya sudah coba banyak cara, tapi tetap sangat sulit. Buat perokok adiktif mungkin tahu bagaimana rasanya,” ucap Dimasz. 

Dia mengatakan, ada langkah-langkah yang harus ditempuh untuk benar-benar berhenti merokok. Disamping itu, upaya berhenti merokok bisa berhasil jika mendapatkan dukungan dari banyak pihak, seperti orang terdekat. 

"Selain itu, produk tembakau alternatif yang telah terbukti lebih rendah risiko berdasarkan hasil penelitian juga bisa menjadi pilihan," katanya.

Dimasz menyebut, berdasarkan hasil studi dari Public Health England (PHE), produk tembakau alternatif, yang dipanaskan bukan dibakar dan rokok elektrik memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Produk ini berpotensi untuk menjadi solusi perokok untuk berhenti merokok.

"Dengan demikian, tujuan dari pemerintah Indonesia untuk menurunkan angka perokok bisa tercapai secara perlahan," pungkasnya.


500
komentar (0)