logo rilis
Sejak Lama Hubungan Trump-Tillerson Alami Keretakan
Kontributor
Syahrain F.
14 Maret 2018, 20:31 WIB
Sejak Lama Hubungan Trump-Tillerson Alami Keretakan
Rex Tillerson dan Donald Trump duduk bersampingan di sela-sela Majelis Umum PBB di New York, pada 20 September 2017. FOTO: Reuters/Kevin Lamarque

RILIS.ID, Washington— Pemecatan Menlu AS Rex Tillerson sebenarnya tidak begitu mengejutkan. Seperti banyak diberitakan, Tillerson dengan bosnya, Presiden Donald Trump, memiliki perbedaan mencolok soal kebijakan luar negeri.

Dalam artikel sebelumnya, pemecatan Tillerson diumumkan Trump tak lama setelah Gedung Putih menyetujui rencana pertemuan dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un. 

Tillerson, yang kala itu masih menjalani agenda diplomasi luar negeri di Afrika merasa tidak diikutsertakan dalam keputusan krusial tersebut.

Tillerson pun dikabarkan berdebat dengan pembantu Gedung Putih yang mengakibatkan Kepala Staf Gedung Putih John F. Kelly meneruskan pesan Trump ke Menlu-nya yang saat itu tengah berada di Nairobi yang berisi, "Bos tidak senang."

Melansir dari Washington Post, sejak lama Tillerson mengusulkan solusi diplomatis dalam urusan segenting nuklir Korut. Namun, Trump menganggap pendekatan semacam itu hanya akan sia-sia.

Memahami pendapatnya sebagai Menteri Luar Negeri kerap dikesampingkan, Tillerson pun mengambil langkah terobos dengan tetap akan membuka jembatan diplomatis dengan Korut. 

Namun, Trump seakan ingin menegaskan bahwa dirinya sebagai pemegang kuasa tertinggi dengan memblok rencana Tillerson di publik, melalui Twitter.

"Dia (Tillerson) hanya membuang-buang waktu berupaya bernegosiasi dengan Manusia Roket (Kim Jong-un)... Simpan energimu Rex," cuit Trump.

Namun ternyata, seperti diketahui dalam pemberitaan, Trump pada akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan Kim pada Mei nanti. Diplomasi pun akan berjalan dengan Korut. 

Rencana pertemuan itu sendiri merupakan kelanjutan dari diplomasi yang sebelumnya telah dijalankan oleh delegasi Korea Selatan (Korsel) yang bertemu dengan Kim di Pyongyang.

Pengamat menilai, Tillerson mungkin merasa tersisihkan dalam keputusan itu, dan Trump akan dipandang sebagai pemimpin yang tak menjalankan roda organisasinya secara struktural. 

Namun, berdasarkan sumber dari pejabat Gedung Putih, Trump justru menikmati ketika dia bisa mengambil keputusan luar negeri tanpa melibatkan Menlu-nya.

Belot
Tillerson di satu sisi, dipandang terlalu "nyaman" ketika menjalin hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Namun semakin hari, Tillerson justru menunjukkan sikap keras terhadap Moskow ketimbang terhadap Trump. Hal itu tampak ketika pemberitaan mengenai mantan agen Rusia dan anaknya yang diracun di Inggris mencuat. 

Dalam pernyataannya Tillerson menyebut Rusia adalah pihak yang bertanggung jawab atas perbuatan tersebut--senada dengan sikap pemerintah Inggris. Gedung Putih melalui sekretaris bidang media-nya Sarah Sanders ketika itu langsung menolak pernyataan Tillerson.

Selain itu, dalam sebuah wawancara dengan stasiun berita NBC News, hubungan Tillerson dan Trump semakin jatuh pada sikap acuh dan tak saling menghormati sebagai sesama pejabat tinggi negara.

Ketika itu Tillerson tidak secara langsung menolak pemberitaan NBC mengenai rapat strategis dengan Pentagon yang mengarahkan Trump dijuluki sebagai seorang "dungu".

"Saya rasanya... Dengar, saya harusnya secepatnya kembali. Saya merasa harus kembali," ucap Tillerson kepada reporter pada Senin (11/3/2018), menjelang pemecatannya diumumkan Trump melalui Twitter.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)