logo rilis

Surplus Jagung itu di Mana? Tunjuk Saja Lokasinya
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
12 Oktober 2018, 13:10 WIB
Surplus Jagung itu di Mana? Tunjuk Saja Lokasinya
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

RILIS.ID, Jakarta— SURPLUS jagung diragukan keberadaanya. Para pengusaha pakan ternak pun menjerit karena kenaikan harga bahan pokok tersebut. Hal ini juga yang membuat Satgas Pangan berangkat meninjau daerah-daerah yang menjadi lumbung pangan tersebut.

Ketua Satgas Pangan, Irjen Pol Setyo Wasisto, mengatakan pada 3 - 10 September lalu pihaknya melakukan peninjauan ke empat provinsi yang menjadi area penghasil jagung. Antara lain Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

"Yang banyak stoknya cuma di Sulsel. Selebihnya, untuk kebutuhan lokal saja masih kurang," kata dia saat dihubungi rilis.id, belum lama ini.

Terkait benar atau tidaknya klaim Kementerian Pertanian atas surplus produksi jagung, kata dia, tak perlu repot-repot berargumen tentang data saja. Sebaiknya, pemerintah langsung tunjukan saja, di mana lokasi yang produksinya berlebih.

"Peternak dan pengusaha makanan ternak siap beli. Kalau Kementan punya data, tunjukan saja barangnya di mana. Kalau cuma berargumen saja tidak akan selesai, ini paling gampang," kata dia.

Direktur Pataka, Yeka Hendra Fatika menilai, kalau bicara soal data Kementan memang tak bisa jadi acuan. Sekarang ini, pembuktiannya cuma dari statistik BPS. Karena, jika mengacu green report dari World Bank, surplus jagung memang diragukan.

Kata dia, tepatnya itu pas-pasan. Malah cenderung kurang. Yang ada sekarang harga jagung kan makin meningkat, bertolak belakang dengan klaim surplus tersebut.

"Lalu, muncul lah pemikiran bahwa kenaikan harga ini karena adalah masalah mafia pangan atau ulah pedagang. Tapi, pas dicek Satgas Pangan ternyata memang kosong," ungkap dia.

Melihat fakta ini, ia malah bertanya balik ke pemerintah. Apa yang melatarbelakangi Kementerian Pertanian mengklaim kalau jagung ini surplus. Seakan-akan ada kepentingan di baliknya.

Sebuah program pajale (padi, jagung dan kedelai) dijadikan "kambing hitam". Karena, pemerintah harus fokus pada penanaman, bantuan benih dan penambahan luas lahan, termasuk alat-alat penunjang pertanian. Masalahnya, apakah semua ini benar terpenuhi?

"Klo misal tersendat bagaimana? Klaim surplus ini seperti cuma untuk menutupi program pajale yang memang banyak masalah. Mulai dari ketersediaan lahan, bantuan benih dan lainnya," ujar dia.

"Di sini lah KPK atau Kejaksaan perlu melakukan pengecekan. Benar atau tidak program ini. Harus dilihat secara menyeluruh," ungkapnya.

Ekspor-Impor Hal Biasa
Melakukan ekspor dan impor adalah suatu hal yang biasa. Misal di Amerika Serikat, di satu waktu mengekspor gandum, tapi di sisi lain dalam keadaan tertentu juga mengimpornya. 

"Jangan seolah-olah saat melakukan ekspor, lalu dianggap sebuah prestasi," ujar Hendra.

Memang diakuinya untuk melakukan impor saat ini akan banyak pertimbangan ekonomi. Apalagi, ketika nilai tukar dolar sedang mengalami kenaikan. Namun, sekarang banyak pengusaha pakan ternak dan peternak yang menjerit. Jadi, tak ada salahnya buka keran impor.

"Lihat multiefeknya ke sekain ribu peternak. Harga pakan akan lebih murah, dan dampak ekonominya juga lebih terasa nanti," kata dia.

Apalagi, musim kemarau panjang yang sekarang ini tengah melanda petani. Tentu, bakal lebih memberatkan banyak pihak. Jadi, solusi sementara ini adalah membuka keran impor jagung.

Pernyataan gagah Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menyebutkan Indonesia surplus jagung diragukan sejumlah kalangan. Bahkan, pernyataan dan data dari Kementerian Pertanian itu dituding sebagai hoaks atau berita bohong.

Bisa disimpulkan bahwa klaim 'surplus' jagung itu bukan menguntungkan tetapi merugikan masyarakat, termasuk peternak dan konsumen.

Pernyataan itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Untung-Rugi 'Surplus' Jagung di Jakarta, Rabu 10 Oktober kemarin. Hadir di sana Direktur Eksekutif Institute for Development of Economies and Finance (Indef) Enny Sri Hartati.

Kemudian, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan, Pengamat Ekonomi dan Pasar Modal Ferry Latuhinhin, Pengamat Pertanian Khudori, Peneliti Pusat Kajian Pangan Strategis, Tony J Kriatianto dan Agripreneur Jagung, Dean Novel.

"Ini hoaks gede," kata Tony J Kristianto.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)