logo rilis
Sukarno dan Sel Nomor 5
Kontributor
Yayat R Cipasang
06 Juni 2018, 13:36 WIB
Sukarno dan Sel Nomor 5
Situs Penjara Banceuy di Kota Bandung, Jawa Barat. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

MENGENANG Sukarno yang lahir 6 Juni 1901, tak bisa lepas dari kisah Penjara Banceuy di Bandung. Satu dari dua penjara di Kota Kembang yang telah membuat jiwa pejuang Bung Karno semakin matang selain Sukamiskin.

Dalam Penjara Banceuy ada kisah cinta yang tidak biasa pada zamannya, antara Bung Karno alias Kusno dengan seorang perempuan bernama Inggit Garnasih.

Pun, bukan kisah percintaan biasa melainkan kisah romantika yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Coba, bisa dibayangkan alat rumah tangga dan perhiasan Inggit pun dikorbankan untuk mendukung perjuangan Bung Karno (Inggit menyebut Sukarno itu Kusno).

Saat berkunjung ke petilasan Penjara Banceuy bersama kelompok pecinta sejarah, baru-baru ini, saya terlibat perdebatan kecil perihal percintaan antara anak kos (Sukarno) dan induk semang tersebut (Inggit).

"Wah berarti Bung Karno merebut istri orang, dong," kata seorang teman.

Teman lain menimpali, "Kalau gitu bisa juga dianggap selingkuh ya."

"Gimana ya perasaan Sanusi (suami Inggit). Cemburu nggak, ya?"

"Kalau jarak usianya jauh, berarti Ibu Inggit doyan brondong," kata seorang teman perempuan.

Anggota kelompok yanga lebih bijak menimpali, "Bung Karno tidak merebut atau berselingkuh. Karena H. Sanusi yang usianya lebih tua dari Inggit tahu istrinya punya rasa dengan Bung Karno. Maka demi perjuangan Bung Karno, Sanusi rela menceraikan istrinya dan mengembalikan ke orangtuanya...."

Anggota kelompok perempuan tidak berkomentar. Mungkin dalam batinnya mereka heran dan bertanya-tanya. "Emang ada cowok yang rela istrinya diambil orang?"

Itulah sejarah. Dari bagian kecil tentang sosok Bung Karno dan Inggit Garnasih ini bisa melahirkan berbagai pendapat atau kalau lebih serius lagi bisa muncul beragam interpretasi.

Sejarawan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Indonesia (UI) dalam pelatihan penulisan sejarah di Bandung mengatakan sah-sah saja muncul berbagai interpretasi dalam sejarah. Malahan bila hanya ada satu pendapat tentang sebuah isu sejarah, patut dicurigai.

Lantaran itu tidak ada istilah pelurusan sejarah seperti selama ini selalu dikemukakan sejarawan Dr. Asvi Warman Adam. Sejarah itu nggak bisa dibuat lurus karena kredonya juga sejarah itu identik dengan beragam penafsiran yang pada ujungnya juga melahirkan aneka interpretasi.

"Yang tepat itu adalah pengkajian sejarah, bukan pelurusan sejarah," kata Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra dari Unpad.

Saat melihat petilasan Penjara Banceuy, saya sempat kaget. Saya membayangkan penjara itu masih utuh. Selevel bui Paledang Bogor atau paling tidak seukuran tahanan Polda Metro Jaya.

Di lokasi hanya ditemukan sebuah bui berukuran 210 x 146 sentimeter persegi bernama Sel Nomor 5. Awalnya terdiri 16 sel, yang tersisa tinggal sel nomor lima yang dulu dihuni Bung Karno selama satu tahun.

Sel masih orisinil termasuk lantai, peralatan minum, pintu dan kuncinya. Kalau tidak ada tugu di bagian depan, siapapun tak menduga di dalam areal ruko dan pusat bisnis tersebut terselip sebuah sel sempit yang telah melahirkan seorang pemimpin besar dan pidato pembelaannya mengguncang penguasa kolonial Belanda,  "Indonesia Menggugat".


500
komentar (0)