logo rilis
Suap Proyek RSUD, Abdul Latif Diduga Terima Rp3,6 Miliar
Kontributor
Tari Oktaviani
22 Maret 2018, 21:54 WIB
Suap Proyek RSUD, Abdul Latif Diduga Terima Rp3,6 Miliar
Bupati nonaktif Hulu Sungai Tengah, Abdul Latif, mengenakan baju tahanan KPK usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah-Putih, Jakarta, 20 Februari 2018). FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Direktur PT Menara Agung Pustaka, Donny Witono, didakwa menyuap Bupati nonaktif Hulu Sungai Tengah, Abdul Latif, Rp3,6 miliar. Uang itu terkait proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Damanhuri Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST), senilai Rp54,4 miliar. 

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK), uang diberikan agar PT Menara Agung Pustaka memenangi lelang proyek pekerjaan pembangunan ruang perawatan kelas I, II, VIP, dan super VIP RSUD H Damanhuri Barabai 2017.

"Dengan maksud, supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya," ujar JPU KPK, Lie Putra Setiawan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Mulanya, uang Donny saat mengikuti lelang. Dia sempat ditolak Latif. Kemudian, Latif meminta Ketua Kamar Dagang Industri HST, Fauzan Rifani, untuk menemui Donny. "Pertemuan antara Donny dan Fauzan berlangsung di Hotel Madani Barabai pada akhir Maret 2017," terangnya.

Pada pertemuan itu, Donny menitip pesan kepada Fauzan, dirinya ingin perusahaannya menang lelang proyek pembangunan di RSUD H Damanhuri. Lalu, Fauzan meminta Donny menyiapkan fee 10 persen dari nilai proyek untuk diberikan kepada Latif.

Setelah tawar-menawar, disepakati fee 7,5 persen. "Terdakwa menyanggupi akan menyerahkan fee yang disepakati dengan H Abdul Latif setelah perusahaannya dinyatakan sebagai pemenang lelang," imbuh Lie.

Selang satu hari, Latif meminta Fauzan menemui Ketua Pokja Pajarudin dan menyampaikan pesannya, perusahaan Donny ditetapkan sebagai pemenang. "Gayung bersambut", PT Menara Agung Pusaka ditetapkan sebagai pemenang proyek.

Selanjutnya, Fauzan menemui Donny di Jakarta, sekitar 30 Mei 2017. Di situ pencairan jatah terkait proyek RSUD H Damanhuri Rp1,82 miliar. Perinciannya, Rp1,8 miliar untuk Latif dan Rp20,4 juta buat Fauzan. Sisanya, diberikan setelah proyek pekerjaan selesai.

"Setelah itu, Abdul Latif meminta Fauzan Rifani untuk memasukkan uang fee dari terdakwa ke rekening koran atas nama PT Sugriwa Agung di Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan," tutup Lie.

Atas perbuatannya, Donny disangkakan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Tipikor juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)