logo rilis
Strategi Manajer Investasi Pada Saat Market Terkoreksi
Kontributor
RILIS.ID
14 Februari 2019, 22:44 WIB
Strategi Manajer Investasi Pada Saat Market Terkoreksi
Ir Bagus Panuntun MBA, CFP, CPEP

Menurut Investopedia, definisi Investasi dilihat dari sisi pandang segi keuangan (finance), adalah“monetary asset purchased with the idea that the asset will provide income in the future or will later be sold at a higher price for a profit”, atauInvestasi adalah aset keuangan yang dibeli dengan pemikiran bahwa aset tersebut akan memberikan penghasilan di masa depan, atau nantinya akan dijual dengan harga lebih tinggi untuk mendapat keuntungan.

Definisi ini menyiratkan bahwa kenaikan harga underlying asset menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan sebuah investasi. Dalam kaitannya dengan pasar saham, maka kenaikan harga saham atau capital gainmenjadi salah satu motif utama yang mendorong dalam berinvestasi para pelaku pasar di pasar saham.

Dari sekian banyak variabel penentu pergerakan harga saham (termasuk prospek keuangan korporasi, naik/turunnya harga sebuah komoditas, suku bunga acuan, naik/turunnya peringkat rating korporasi, mata uang, dsb). Ulasan kami pada saat ini adalah fokus pada pergerakan harga saham yang dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu Bursa Saham. Pada saat market keseluruhan mengalami koreksi, banyak dari pelaku pasar “menyalahkan” kondisi bursa yang sedang turun atau “bearish”. pelaku saham Dalam teori klasik keuangan, korelasi antara penguatan/ pelemahan harga saham sebuah korporasi dengan penguatan/pelemahan bursa saham disebut sebagai β(Beta) atau sering disebut juga sebagai systematic risk atau market risk. Karena jenis resiko ini berhubungan dengan market secara keseluruhan, maka resiko ini adalah un-diversiable risk atau resiko yang tidak dapat di diversifikasi lagi.

Pertanyaanya adalah bagaimana seorang Manajer Investasi dapat menyiasati atau menghindar dari kerugian pada saat Market mengalami koreksi yang cukup dalam. Yang perlu diingat bahwa tugas seorang manajer investasi adalah untuk menjaga konsistensi performance dari dana yang dikelola dan dalam pengelolaan resiko sebuah portfolio. Jika seorang manajer investasi tidak dapat mengendalikan kondisi portfolio pada saat kondisi market sedang mengalami turbulensi maka tentunya manajer investasi tersebut belum dapat menjalankan fungsinya dengan benar. 

Pada Tri Ganesha Jaya Advisory, ada beberapa pendekatan untuk tetap menjaga performa pada  saat market mengalami koreksi. Yang paling mudah adalah dengan cara sangat sederhana yaitu dengan memilih saham yang memiliki pergerakan negative (berkorelasi negative)  dengan bursa saham pada saat bursa saham terkoreksi.

Cara lain adalah dengan menggunakan strategi hedging dengan asset class yang sesuai dengan underlying portfolio

Pada kesempatan ini kami akan mengetengahkan suatu metode unik yang kami bangun selama bertahun-tahun,dan sudah terbukti kebenarannya sejauh pengalaman kami untuk mendeteksi saham mana yang akan secara langsung memiliki korelasi negatif dan positif dengan pasar (atau index bursa).Metode ini kami namakan metode ”5675” yang diolah dengan landasan ilmu perbintangan atau dikenal juga dengan astrologi.

Dilihat dari situs Bursa Saham Indonesia (www.idx.co.id), maka terungkap bahwa setelah cukup lama vakum, bursa saham indonesia kembali dibuka oleh Presiden Soeharto tanggal 10 Agustus 1977. Tanggal tersebut menyiratkan tujuan  dari dibuka kembalinya Pasar Modal sebagai bagian dari kelengkapan infrastruktur keuangan nasional. Dari tanggal tersebut maka posisi bintang dan planet di langit pada tanggal tersebut (gambar 1), juga meresonasikan hal yang sama ditandai dengan posisi planet Saturnus dan Matahari yang bertengger di sektor ke delapan.

Patut dicatat bahwa pada perbintangan sistem helenistic , sektor ke delapan juga mewakili sektor keuangan. Adanya Saturnus yang melambangkan Governmentdan keseriusan, serta Matahari sebagai perlambang support meresonasikanupaya pada hari dan tanggal tersebut dari pemerintah yang serius untuk memperkuat industri keuangan pada saat dibuka kembalinya pasar modal.

Yang paling penting untuk diperhatikan bagi seorang manajer investasi, dan untuk membatasi scope pada ulasan kami saat ini,  adalah sign dari ascendant dan midheaven

Ascendant yang merupakan bagian dari sektor pertama pada sebuah chart menggambarkan karakterutama sebuah entitas.

Menurut hasil riset dan pengalaman kami, sebuah saham akan memiliki trend yang sama dengan keseluruhan trend bursa saham, bila ascendant saham tersebut memiliki gender yang sama dengan bursa saham tersebut.

Untuk lebih mudah dan singkatnya kami akan menyajikan ilustrasi berupa beberapa contoh nyata yang terjadi pada perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta

Contoh 1 :PT Astra International Tbk (ASII)

Seperti ditunjukkan pada gambar 1 diatas bahwa Bursa Saham Indonesia memiliki ascendant Capricorn

 () yangmemiliki kualitas gender Yin. Sedangkan PT Astra International Tbk (ASII), yang memiliki ascendant Taurus ( juga memiliki kualitas gender yang sama, Yin. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pergerakan ASII memiliki korelasi positif, dan bergerak secara keseluruhan sama dengan Index Harga Saham Gabungan(IHSG).Hal ini terlihat pada saat IHSG mengalami koreksi cukup tajam antara bulan February – Mei 2018 dimana secara keseluruhan IHSG terkoreksi sebesar -9.2%, dan ASII terkoreksi -16.6% (gambar 3)

Gambar 2

 

Gambar 3

Contoh 2: PT Tara Propertindo Tbk (TARA)

TARA memiliki Ascendant Sagitarius yang memiliki kualitas Male atau Yang, sehingga secara keseluruhan TARA akan bergerak berlawanan dengan IHSG yang memiliki kualitas Female atau Yin(gambar 4). Pada saat IHSG mengalami koreksi cukup tajam pada rentang waktu yang sama dengan diatas antara February – May 2018, IHSG terkoreksi -9.2%, sedangkan TARA mengalami apresiasi sebesar +3.2% pada rentang waktu yang sama (gambar 5).

Gambar 4

 

Gambar 5

Tentunya masih cukup banyak lagi contoh-contoh lainnya perihal penggunaan efektif sebuah Ascendant dalam berinvestasi di pasar saham.Pada akhirnya, agar mampu memberikan return yang optimum kepada Investor, semua akan kembali kepada kelihaian Manajer Investasi atau penasihat keuangan dalam membaca arah pasar dan melakukan alokasi asset yang sesuai dengan arah pergerakan pasar tersebut. Tantangan terbesarnya adalah dalam menemukan the right advisor.

Wallahua’lam Bishawab

Ir Bagus Panuntun MBA, CFP, CPEP
Founder Tri Ganesha Jaya Advisor




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID