logo rilis

Starter Bi-Proyo Permudah UKM Memproduksi Yoghurt
Kontributor
Elvi R
11 April 2018, 12:14 WIB
Starter Bi-Proyo Permudah UKM Memproduksi Yoghurt
Hasil dari starter “bi Proyo” produksi Balitbangtan. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Susu berperan penting dalam meningkatkan konsumsi protein hewani sebagian besar masyarakat Indonesia dan meningkatkan PPH protein hewani. Saat ini, preferensi konsumen terhadap produk olahan susu semakin meningkat. Kurang lebih 80 persen masyarakat Indonesia mengkonsumsi susu dalam bentuk olahan. Adapun produk susu fermentasi yang ada di masyarakat saat ini, antara lain yoghurt, keju, kefir, dan lain-lain.

Pada proses fermentasi, susu olahan biasanya memerlukan ketersediaan starter kering. Saat ini, ketersediaan starter kering masih menjadi tugas tersendiri bagi UKM dan industri yoghurt. Starter kering masih dijual dengan harga yang cukup mahal, yakni sekitar Rp150 ribu per sachet. Permasalahan inilah yang sering dihadapi oleh UKM yang bergerak dalam olahan yoghurt.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Prof. Dr. Ir. Risfaheri mengatakan, untuk mengatasi permasalahan ketersedian starter pembuatan yoghurt, Balitbangtan telah menghasilkan starter kering yoghurt probiotik siap pakai. Starter kering itu mampu menghasilkan yoghurt dengan kualitas yang tidak kalah dengan starter yoghurt impor.

Tim peneliti starter kering, Miskiyah, SPt.MP, dkk menyebutkan, starter ini mempunyai keunggulan, di antaranya mampu menghasilkan yoghurt dengan rasa yang lebih enak, harga lebih murah dibandingkan dengan starter impor, serta masa simpan yang relatif panjang dengan tingkat viabilitasnya sel yang tetap tinggi.

“Starter kering ini juga bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor,” kata Miskiyah.

Menurut Miskiyah, kandungan bakteri probiotik pada starter kering yoghurt probiotik akan menghasilkan yoghurt yang mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi organ pencernaan.

Saat ini, beberapa UKM binaan BB Pascapanen, di antaranya Liseli (Sukabumi)  dan Srikandi Barokah (Boyolali), telah memproduksi yoghurt  dengan menggunakan starter kering yoghurt probiotik atau dikenal dengan starter “Bi-Proyo”. Hampir dua tahun menjadi mitra dari BB Pascapanen menjadikan starter “bi-Proyo” semakin dikenal dan dicari pengolah yoghurt, baik yang komersial maupun yang ingin membuat yoghurt untuk dikonsumsi sendiri.

UKM Liseli yang mulai  berproduksi sejak 1987 dan memperoleh sertifikat halal LPPOM Sukabumi pada 2012 berkomitmen untuk mengembangkan penggunaan starter yoghurt “bi Proyo” dan senantiasa mengenalkannya pada masyarakat luas, baik melalui pelatihan, pameran, maupun kunjungan ke rumah produksinya. Demikian halnya dengan UKM Srikandi Barokah yang berlokasi di Kabupaten Boyolali.

Bahkan, di kedua tempat tersebut starter “bi Proyo” juga bisa didapatkan. Yoghurt yang dihasilkan oleh kedua mitra tersebut disukai oleh berbagai kalangan. Kemitraan yang dilakukan dengan BB Pascapanen dirasakan banyak manfaat yang telah dirasakan oleh kedua belah pihak. Harapannya, pemanfaatan starter bi-Proyo semakin meluas dan menarik minat investor untuk mengembangkan starter kering yoghurt probiotik tersebut.

Sumber: (Ega/Balitbangtan)


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)