logo rilis
Staf Khusus: Pak Jonan dan Archadra Bekerja untuk Merah Putih
Kontributor

28 Februari 2018, 15:45 WIB
Staf Khusus: Pak Jonan dan Archadra Bekerja untuk Merah Putih
Staf Khusus Hadi Mustofa Djuraid main panco bersama Menteri ESDM Ignnasius Jonan. FOTO: Itimewa

ISU yang berkaitan dengan Kementerian ESDM selalu menarik dan sangat sensitif. Mulai dari isu pertambangan, minyak bumi dan gas hingga soal energi baru terbarukan (EBT). Seperti apa isu itu dikelola dan kemudian dieksploitasi sehigga bermafaat bagi masyarakat?

Berikut ini perbincangan wartawan rilis.id Sukardjito dan Faturohman Akbar dengan Staf Khusus Menteri ESDM Igasious Jonan, Hadi Mustofa Djuraid, Selasa (28/2/2018). 

Bagaimana pendapat Anda tentang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sempat membuat masyarakat resah?

Kenaikan BBM nonpenugasan (nonsubsidi) sudah termaktub dalam Peraturan Presiden RI Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi. Jadi dasar itulah yang dipakai Pemerintah dalam penentuan harga.

Harga BBM sangat rentan dengan isu minyak dunia karena terkait impor. Sebenarnya seperti apa masa depan migas Indonesia?

Potensi sumber daya migas nasional saat ini masih cukup besar, terakumulasi beberapa cekungan sedimen (basin) yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tentunya Kementerian ESDM selalu meng-update sumber energi lainya khususnya migas.

Selain itu, dinamika industri minyak dan gas bumi yang sudah berlangsung sejak lama, menjadikan Indonesia lebih matang dalam mengembangkan kontrak dan kebijakan dengan dukungan peraturan, insentif dan penghormatan terhadap kontrak migas.

Apakah masih banyak ladang migas yang belum dieksplorasi?

Kementerian ESDM lewat kepemimpinan Pak Ignasius Jonan dan Pak Archandra Tahar masih melakukan update terkait ladang migas. Memang, terakumulasi banyak cekungan, tapi kita masih terus menemukan cekungan baru.

Bagaimana dengan energi baru terbarukan (EBT) prospeknya di Indonesia?

Pemerintah telah menetapkan target energi baruan jangka pendek sebesar 23 persen pada 2025 dengan kapasitas penyediaan energi sebesar 400 million tonnes of oil equivalent (MTOE).

Adapun untuk tahap jangka panjang (long term) sebesar 31 persen pada tahun 2050 dengan kapasitas produksi sebesar 1.012 MTOE. Angka-angka tersebut ditetapkan untuk mendukung kemandirian energi nasional.

Jadi, pertumbuhan EBT tidak hanya terkait angka-angka yang kuantitatif, namun juga nilai manfaat yang sifatnya subtantif. Tercapainya target bauran energi tidak hanya mengejar angka 23 persen di tahun 2025 dan 31 persen di tahun 2050, tapi juga menetapkan indikator mendasar yang mampu menyentuh persoalan subtansial energi kita saat ini yaitu terkait ketersediaan (available), akses (accessibility) dan terjangkau (affordable).
 
Selama berada di lingkungan ESDM apa yang menarik dari Pak Jonan dan Pak Archandra?

Keduanya menarik dan tentunya mereka bekerja untuk merah putih. Seperti halnya sikap keras mereka soal divestasi freeport waktu lalu.

Ada pengalaman menarik selama jadi staf khusus?

Semua menarik. Saya mendampingi Pak Jonan sejak beliau jadi Menhub. Bagi saya bekerja untuk bangsa dan negara adalah hal menarik.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID