Home » Ragam

Sosiolog: Jangan Marahi Anak dengan Ujaran Tidak Faktual

print this page Sabtu, 13/1/2018 | 20:30

Ilustrasi keluarga. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rochadi, menyatakan, ketakutan menjadi alasan anak berbohong. Alhasil, menjadikan anak sebagai "pribadi yang kosong".

Ketakutan anak dipicu dari ujaran, prilaku, dan kebiasaan orang tua dalam menghukum. "Di rumah, sebetulnya, anak-anak dilarang untuk dimarahi dengan ujaran yang tidak faktual," katanya saat dihubungi rilis.id, di Jakarta, Sabtu (13/1/2018).

Menurut Sigit, ketakutan yang sudah tertanam akan menimbulkan kebohongan. Lebih berbahaya, kala kebohongan menjadi rasa aman bagi anak. "Merasa bangga, jika melakukan perbuatan menyimpang," katanya mencontohkan.

Dia menyesalkan, tiada pendidikan karakter yang dilakukan, lantaran minimnya perhatian pemerintah. Katanya, hal tersebut terjadi sejak rezim Soeharto. "Kekeliruan ini sudah ada sejak era Orde Baru," ungkapnya.

Tahun '70-an, jelasnya, pemerintah berupaya memodernisasikan kurikulum. Segala muatan lokal dipangkas habis. Tujuannya, menciptakan modal sumber daya manusia (SDM). Prestasi akademis dikedepankan, tanpa melihat aspek karakter.  

Sinergi antara keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah, seperti berdiri menjadi institusi yang berbeda dalam mendidik anak. Dampaknya, tak ada pembelajaran yang sifatnya menanamkan kejujuran.

"Segala teknis dan tindak prilaku anak tidak menjadi sorotan yang penting," pungkas Sigit.

Penulis Afid Baroroh
Editor Fatah Sidik

Tags:

Sigit RochadiBohongAnak