logo rilis
Sosialisasi 4 Pilar MPR: Mencintai Indonesia, Mengenal Sejarahnya
Kontributor
Nailin In Saroh
05 Maret 2019, 09:53 WIB
Sosialisasi 4 Pilar MPR: Mencintai Indonesia, Mengenal Sejarahnya
Wakil Ketua DPR Hidayat Nur Wahid. FOTO: Humas MPR

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid mengatakan, sebagian materi Sosialisasi Empat Pilar MPR berisi sejarah bangsa Indonesia. Karena itu, menurut dia, acara sosialisasi sangat penting untuk diikuti seluruh lapisan masyarakat. 

Selain itu, dengan mengikuti sosialisasi bisa  menyegarkan ingatan masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsanya. Sekaligus mempertebal rasa cinta terhadap bangsa Indonesia. 

Sejauh ini, dijelaskan Hidayat, MPR sudah melakukan kerjasama dengan berbagai kelompok masyarakat untuk melakukan sosialisasi. Mulai dari masyarakat dilingkungan RT RW, sekolah, ormas, hingga organisasi profesi maupun kelompok masyarakat yang lain.

"Kita tidak mungkin mencintai Indonesia kalau kita tidak mengenalnya dengan baik. Inilah salah satu fungsi kegiatan sosialisasi, mengenalkan sejarah bangsa kepada masyarakat, agar timbul perasaan cinta yang makin besar kepada bangsa dan negara", ujar Hidayat dihadapan warga di aula Masjid An Nizhom, Komplek perkantoran rawa kerbau, Jl. Rawa sari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (4/3/2019). 

Berdasar sejarahnya, lanjut Hidayat, sosialisasi pertama dilaksanakan sejak 2004. Waktu itu MPR menggunakan istilah sosialisasi keputusan MPR. 

"Tahun 2009, istilah itu berubah menjadi sosialisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi istilah tersebut di judicial review, sehingga sejak 2014, istilah yang dipakai menjadi Sosialisasi Empat Pilar MPR," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Hidayat juga menyampaikan, sejak dulu banyak ulama yang ikut berjuang mempertahankan NKRI. Salah satu peristiwa yang tidak bisa dilupakan terjadi ketika sila pertama Pancasila diprotes oleh perwakilan Indonesia Timur yang mengancam akan keluar dari NKRI, jika Piagam Jakarta tidak diubah. 

"Mendapat laporan seperti itu, Ki Bagus Hadikusumo, KH.  Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Tengku Muhammad Hasan segera berembuk. Hasilnya, mereka mau menghapus tujuh kata pada piagam Jakarta, dan menggantinya menjadi bunyi Pancasila seperti yang kita temui sekarang. Semua itu dilakukan demi menjaga keutuhan NKRI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945", ungkap Hidayat.

Kisah-kisah seperti itu, tambah Hidayat, harus disampaikan dan dimengerti oleh generasi muda, agar menimbulkan nasionalisme dan rasa cinta terhadap bangsa dan negara.

Acara sosialisasi ini merupakan kerjasama MPR dengan Yayasan Indonesia Sehat Sejahtera. Turut hadir dalam acara tersebut, Ketua Yayasan Indonesia Cerdas sejahtera Fernando.

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID