logo rilis
'Soft Supporter' Tentukan Pemenang Pilgub Jabar
Kontributor

22 Juni 2018, 11:30 WIB
'Soft Supporter' Tentukan Pemenang Pilgub Jabar
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Bandung— Pertarungan empat pasangan kandidat Pilgub Jabar Juni 2018 akan diwarnai persaingan yang sangat ketat antara Ridwan Kamil–Uu Ruzhanul Ulum (RINDU) dengan presentase 38,0 persen dan Deddy Mizwar–Dedi Mulyadi (Dua DM)  sebesar 36,6 persen. 

"Siapa yang akan menjadi pemenang,  sangat tergantung kemana larinya suara pemilih cair, ragu dan belum menentukan pilihan (soft supporter) sebesar 39 persen. Namun, potensi kemenangan tetap ada pada dua pasang, yaitu RINDU dan Dua DM," kata Toto Izul FatahDirektur Eksekutif Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia yang didirikan oleh Denny JA, di Bandung, Jumat (22/6/2018).

Toto mengatakan, survei  dilakukan pada 7 hingga 14 Juni  2018 dengan menggunakan metode standar multi stage random sampling, di mana seluruh pemilih Jawa Barat dipilih secara random dan wawancara tatap muka.

"Jumlah respondennya sebanyak 440 orang, dengan margin of error sebesar 4.8 persen," katanya ketika menyampaikan analisis hasil survei terbaru dari  Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) terkait dengan preferensi pemilih dalam Pilkada Jawa Barat 27 Juni  2018 mendatang.

Toto melanjutkan, jika merujuk pada survei LSI Denny JA sebelumnya yang dilaksanakan pada Maret 2018, kedua pasangan ini, RINDU dan Dua DM sama-sama mengalami penurunan.

Sebelumnya, Dua DM unggul tipis dengan 43,2 persen, disusul RINDU dengan 39,3 persen.

Pada survei terbaru ini, RINDU yang juga turun 1,3 persen mulai menyalip Dua DM yang turun sekitar 6 persen.

Dari data yang seperti ini masih sulit untuk dibilang siapa pemenangnya karena keunggulan RINDU masih dalam margin of error 4,8 persen, termasuk, dukungan yang tersebar di aneka segmen demografis pun seperti suku, agama, usia, pendidikan, tingkat penghasilan, pemilih partai, masih belum merata pada kandidat tertentu.

Kedua pasangan ini masih sangat mungkin berkejaran saling salip, tergantung pada kemampuan dan kecerdasan masing-masing dalam memanfaatkan sisa waktu kurang lebih 7 hari ini untuk merebut lahan tak bertuan (soft supporter) sebesar 39 persen.

"Siapa yang bisa mengambil suara terbanyak dari soft supporter ini, mereka lah pemenangnya. Khususnya, tentu dua pasangan bernomor urut 1 dan 4 ini," jelas Toto.

Sementara, dua pasangan lainnya, Hasanudin-Anton (HASANAH) naik menjadi 7,7 persen dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (ASYIK) yang juga naik sedikit menjadi 8,2 persen. Namun, keduanya cukup sulit untuk bisa menyalip RINDU dan DUA DM dalam waktu yang tinggal  7 hari ini. 

"Kecuali, terjadi tsunami politik atau money politik yang massif. Meskipun, keduanya sama-sama punya tren naik," ungkap Toto.

Meskipun belum signifikan, kenaikan elektabilitas pasangan ASYIK dan HASANAH, disumbang oleh kenaikan wakil masing-masing, yaitu Ahmad Syaikhu dan Anton Charliyan dengan kenaikan skitar 2 hingga 3 persen.

Sementara, pasangan RINDU yang sekarang memimpin tipis disumbang oleh wakilnya, Uu Ruzhanul Ulum yang mengalami kenaikan, baik pengenalan dari sebelumnya 30 persen menjadi 37 persen maupun elektabilitas personalnya  dari 16 persen menjadi  18,4 persen.

Terjadi sebaliknya pada Dedi Mulyadi (wakil dari Deddy Mizwar) yang semula unggul dan penyumbang terbesar elektabilitas Dua DM mengalami penurunan elektabilitas personalnya dari 38 persen menjadi  33 persen.

Meskipun tidak dipotret secara khusus lewat survei kualitatif (FGD), alasanan penurunan Dua DM, khususnya Dedi Mulyadi diduga lebih karena mulai massifnya kampanye hitam (negative campaign) terhadap Dedi Mulyadi.

Namun, Dua DM pada saatnya bisa saja diuntungkan oleh kecendrungan prilaku pemilih di lapis grass root yang tidak tersentuh kampanye hitam karena terbatasnya akses publik terhadap media dan media sosial, juga masyarakat bawah yang belum kenal tiga pasangan lainnya kecuali Deddy Mizwar melalui iklan dan sinetron di TV.

"Sehingga, saat memilih nanti, mereka tahunya hanya Deddy Mizwar, tidak yang lainnya," jelas Toto. 

Debat Kandidat

Selain elektabilitas dan distribusi segmen demografis, survei LSI Denny JA kali ini juga memotret pertanyaan seputar Debat Kandidat dan Isu #2019Ganti Presiden.

Dua isu ini penting untuk melihat seberapa besar pengetahuan publik dan pengaruhnya terhadap  elektabilitas pasangan calon.

Hasilnya? Sebanyak 73,4 persen publik di Jawa Barat tidak mengetahui dan tidak menyaksikan debat kandidat di televisi yang sudah disiarkan. Hanya 26,6 persen saja publik yang mengetahui dan menyaksikan.

Saat ditanya siapakah pasangan yang unggul dalam debat tersebut, sebesar 30,8 persen publik mengunggulkan RINDU, 25,6 persen Dua DM, sebesar 6 persen untuk pasangan ASYIK dan 3,4 persen untuk HASANAH.

Apakah dari mereka yang mengunggulkan pasangan tertentu dalam debat tersebut otomatis memilihnya? Survey LSI memang tidak memotretnya lebih detil. 

Namun, jika dilihat dari urutan elektabilitas pasangan, mulai dari RINDU sampai HASANAH, sepertinya ada kaitan antara persepsi mengunggulkan dalam debat itu dengan pilihan. Misalnya, RINDU yang memimpin elektabilitas dipersepsi tertinggi oleh 30,8 persen yang mengunggulkan. Disusul Dua DM dengan 25,6 persen ASYIK dan HASANAH.

Sementara itu, khusus untuk isu #2019Ganti Presiden, sebanyak  53,6 persen publik di Jawa Barat mengetahui. Dan 46,4 persen mengaku tidak tahu.

Saat ditanya apakah setuju, cukup setuju, kurang setuju dan tidak setuju sama sekali terhadap isu tersebut, sebesar  34,1 persen mengaku setuju, 14,1 persen sangat setuju (jika digabung menjadi  48,2 persen setuju), 20,5 persen kurang setuju 9,1 persen tidak setuju sama sekali. 22,2 persen mengaku tidak tahu dan tidak jawab.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID