Home » Inspirasi » Riwayat

Soepomo, Tokoh Utama di Balik Lahirnya UUD 1945

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

BAGI kita yang masih tak sanggup keluar dalam “penjara sejarah” Orde Baru, tentu tak asing dengan nama Soepomo. Betapa tidak, teori “negara integralistik"-nyadigunakan oleh Soeharto untuk melegitimasi otoritarianisme. Soeharto mencari alat legitimasi dengan konstitusi untuk mengonsolidasi tentara.

Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah pada 22 Januari 1903. Prof. Mr. Dr. Soepomo dibesarkan dalam lingkungan aristokrat Jawa. Kakek dari pihak ayah adalah Raden Tumenggung Reksowardono yang pada waktu pemerintahan Hindia Belanda didaulat sebagai Bupati Anom Sukoharjo. Sedangkan kakek dari pihak ibunya adalah Raden Tumenggung Wirjodiprojo yang menjabat sebagai Bupati Nayaka Sragen.

Sebagai keluarga priayi, tak ada kesulitan untuk Soepomo mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Ia memperoleh pendidikan setingkat orang-orang Eropa. Pada 1917, Soepomo memperoleh pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School) Boyolali pada 1917, kemudian MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) Solo pada 1920. Pada 1924, Soepomo melanjutkan pendidikan ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda, hingga pada 1927 Soepomo berhasil memperoleh gelar Doktornya dengan disertasi berjudul “Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta” (Reorganisasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta). Dalam disertasi tersebut, Soepomo mengupas sistem agraria tradisional di Surakarta dan menganalisis hukum-hukum kolonial yang berkaitan dengan pertanahan di wilayah Surakarta secara tajam, namun dengan bahasa yang halus dan tidak langsung.

Dalam sebuah kesempatan dalam perumusan UUD 1945, pada 31 Mei 1945, di hadapan Sidang Umum BPUPKI, Soepomo dalam pidato yang cukup panjang menguraikan tiga teori yang bisa dipilih sebagai dasar dan prinsip negara yang akan dibentuk.

Pertama, teori perseorangan atau teori individualistik yang diajarkan oleh Thomas Hobbes, John Locke, Rousseau, Herbert Spencer, dan Lanski. Menurut teori ini, negara adalah masyarakat hukum yang disusun atas kontrak antara seluruh individu dalam masyarakat demi menjamin hak-hak individu di dalam masyarakat. Kedua, teori pertentangan kelas atau teori golongan sebagaimana diajarkan oleh Karl Marx, Engels, dan Lenin. Menurut teori ini, negara merupakan alat dari suatu golongan yang kuat untuk menindas golongan yang lemah. Dan, ketiga, teori yang ia sebut dengan konsep negara integralistik sebagaimana yang diajarkan Spinoza, Adam Muller, dan Hegel. Menurut teori ini, negara tidak menjamin kepentingan individu atau golongan tertentu, tetapi menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya sebagai satu kesatuan yang integral.

Teori negara integralistik menganggap hak dan distribusi hak hanya ada dan boleh dikerjakan oleh negara. Kedudukan negara adalah superior dan absolut terhadap warga negara. Ini yang kemudian dijadikan pembenaran atas laku represif Presiden Soeharto. Lebih lanjut, konsep negara integralistik tersebut yang basisnya keluarga, ditafsirkan Orde Baru dengan keluarga besar. Presiden yang sedianya sebagai kepala keluarga dilekatkan pada posisi sebagai bapak bangsa. Sehingga jika dalam keluarga, secara kultural, tradisi, ideologis, maupun biologis, kedudukan bapak tidak boleh diganggu atau diinterupsi oleh anak-anaknya.

Terlepas dari ide Soepomo yang mungkin saja memiliki pretensi atau bahkan dia salah menafsirkan Hegel, tapi faktanya Soepomo hadir dalam semua dokumen lain tentang penyusunan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Soepomo memberi ide dalam setiap diskursus penyusunan undang-undang. Masuk atau tidaknya ide tersebut menjadi cerita lain. Tapi tentang karakter kebesaran hati para pemikir bangsa yang waktu itu terlibat dalam penyusunan dasar negara adalah sebuah keteladanan yang patut dilestarikan. Ia melepaskan segala kepentingan atas pengetahuan yang selama ini diyakininya untuk kepentingan bangsanya.

Soepomo memberi warna atas gagasan keindonesiaan yang waktu itu diperbincangkan. Ia mengisi setiap perdebatan ke arah mana bangsa ini akan dibawa. Soepomo menjadi tokoh sejarah intelektual di mana pikirannya masih tetap melekat dalam memori bangsa, ia mengganggu sekaligus mensponsori masa depan atau perdebatan ke mana arah bangsa ini.

Soepomo mengganggap konsep negara integralisik ini sangat cocok dengan alam pikiran ketimuran, juga didasarkan pada struktur sosial masyarakat Indonesia yang asli yang terdapat di desa-desa di Indonesia. Pemikiran ini didasarkan pada prinsip persatuan antara pimpinan dan rakyat dan prinsip persatuan dalam negara seluruhnya. Konsep negara integralistik, di mana negara adalah kesatuan masyarakat yang organis dan tersusun secara integral. Di dalamnya, segala golongan, segala bagian, semua individu berhubungan erat satu sama lain.

Gagasan Soepomo menemukan titik singgungnya dengan Soekarno dalam meyakini kekhasan kultur dan struktur masyarakat Indonesia sebagai dasar pendirian sebuah negara. Sedangkan di pihak lain, Mohammad Hatta menyanggah dengan mempertanyakan tidak dimasukkannya hak-hak berserikat, bersuara, dan menyatakan pendapat dalam tawaran awal UUD. Bagi Hatta, hak-hak ini yang kemudian menjadi sangat penting dalam rangka melakukan kontrol terhadap kekuasaan pemerintah.

Dengan arif, kita harus menempatkan pemikiran integralistik Soepomo dalam konteks ruang dan waktu pada saat pemikiran tersebut disampaikan. Pada awal kemerdekaan, sikap antipenjajah sangat kuat, sehingga hampir semua hal yang berasal dari negara-negara penjajah akan ditolak.

Dalam perkembangannya, konsep negara integralistik secara nyata tidak tahan uji terhadap asas-asas demokrasi, terutama asas kedaulatan rakyat yang kemudian masuk ke dalam UUD 1945. Terutama ketika Pasal 28 isinya menjamin kemerdekaan warga negara untuk berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat.

Bagaimanapun, kita pernah memiliki Soepomo, ahli hukum generasi pertama Indonesia. Dia, yang hingga di ujung hayatnya, turut berperan dalam pembentukan sistem hukum nasional. 

Di usia 55 tahun, Soepomo meninggal dunia akibat serangan jantung di Jakarta pada 1958. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman keluarga kampung Yosoroto, Solo.

Editor Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

SoepomoUUD 1945Riwayat

loading...