logo rilis
Soal Sawit, Fadhil Hasan: Indonesia Masih Berpeluang Kalahkan Uni Eropa
Kontributor
Yayat R Cipasang
01 Mei 2018, 20:37 WIB
Soal Sawit, Fadhil Hasan: Indonesia Masih Berpeluang Kalahkan Uni Eropa
ditjenhutbun.pertanian.go.id

RILIS.ID, Jakarta— Resolusi Parlemen Eropa yang mengusulkan penghapusan minyak sawit sebagai sumber biodiesel belum mengikat secara hukum untuk menjadi keputusan seluruh negara Eropa. Indonesia punya peluang untuk mengalahkan usulan parlemen tersebut.

Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (1/5/20180, menyatakan bahwa keputusan Parlemen Uni Eropa belum menjadi undang-undang yang harus dijalankan.

"Diperlukan trialog dengan Komisi Eropa dan Dewan Eropa untuk mencapai keputusan untuk dilaksanakan di negara-negara anggota UE," ujar Fdhil Hasan. Sementara mulai 27 Maret tahun ini, ketiga badan UE tersebut memasuki putaran kedua perundingan trialog.

"Posisi masing-masing negara anggota UE berbeda-beda, demikian pula posisi parlemen, komisi dan dewan. Hasilnya belum kita ketahui sampai keputusan diperkirakan baru diambil pada 2019," kata Fadhil.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Responsible Palm Oil Initiatives (RPOI) Rosediana Suharto mengatakan ada perbedaan prinsip antara Indonesia dan pihak Uni Eropa mengenai definisi phasing out atau pengurangan pemakaian sawit sebagai sumber energi terbarukan.

Dalam perspektif Indonesia, tambahnya, istilah phasing out sama dengan memboikot minyak sawit masuk ke Eropa.

"Tetapi Eropa pandangannya berbeda. Phasing out ini minyak sawit tetap bisa masuk Eropa. Namun, penggunaan biodiesel sawit tidak dimasukkan dalam target pengurangan gas emisi karbon mereka. Di sinilah, kita ingin minta kejelasan mereka," ujarnya.

Menurut Direktur CPOPC Mahendra Siregar, negara produsen sawit seperti Indonesia, Malaysia dan lima negara produsen lainnya telah mengirimkan surat bersama ke berbagai lembaga di Uni Eropa untuk memprotes penghapusan penggunaan sawit sebagai sumber biofuel.

Posisi negara-negara Uni Eropa, lanjutnya, telah dipetakan mana yang pro dan kontra resolusi sawit. Untuk negara di kawasan Eropa Timur kemungkinan mendukung resolusi lantaran tidak ingin bergantung kepada sawit. Negara nordik berpotensi mendukung perdagangan yang terbuka.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)