logo rilis
Soal e-KTP, KPK Ditantang Buktikan Peran Politisi PDIP
Kontributor
Tari Oktaviani
23 Maret 2018, 20:26 WIB
Soal e-KTP, KPK Ditantang Buktikan Peran Politisi PDIP
Pengacara terdakwa kasus korupsi pengadaan e-KTP Setya Novanto, Maqdir Ismail (kanan), menyampaikan pertanyaan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (8/2/2018). FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Kuasa hukum Setya Novanto (Setnov), Maqdir Ismail, menantang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan keterlibatan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam kasus dugaan korupsi e-KTP.

"Sekarang tugas KPK yang buktikan (keterlibatan Puan Maharani dan Pramono Anung). Kan, mereka ada penyidik dan penuntut umum," ujarnya di Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Menurutnya, sejauh ini keterangan Setya signifikan dalam mengungkap banyak pihak yang diduga terlibat kasus e-KTP. Hingga kini, nama teranyar cuma Puan dan Pramono. "Semua sudah disampaikan Pak Setnov," terangnya.

Baca: Puan Sebut Pernyataan Setya Novanto Tak Berdasar

Sebelumnya, terdakwa Setya Novanto mengatakan, petinggi Fraksi PDIP DPR kala itu kecipratan duit e-KTP. Info tersebut berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari pengusaha Made Oka Masagung.

"Waktu itu ada pertemuan di rumah saya yang dihadiri oleh Oka dan Irvanto. Di sana, saya berikan ke Puan Maharani US$500 ribu, Pramono Anung US$500 ribu," ucapnya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (22/3).

Hakim Yanto kemudian memastikannya kembali. Dia mempertanyakan pihak yang memberikan uang kepada dua politisi PDIP tersebut.

"Itu keterangan Anda?" tanya Yanto. "Itu keterangan beliau, keterangan Pak Oka," jawab Setya.

Setya sendiri merasa heran, lantaran saat Oka menjadi saksi di persidangan, malah mengaku lupa telah menampung uang e-KTP. Meski begitu, dirinya kembali mempertegas terkait rekaman percakapan yang diputar jaksa beberapa waktu lalu tak terkait e-KTP.

Baca: Korupsi e-KTP, Setnov Sebut Puan dan Anung Kecipratan

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)