logo rilis
Slender, Beras Ramping yang Disukai Pasar
Kontributor
Elvi R
11 April 2018, 19:28 WIB
Slender, Beras Ramping yang Disukai Pasar
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Majalengka— Pemilik PB Huda Perkasa, Majalengka Wawan Setiawan ST. Sarjana teknik mengatakan, gabah ramping memiliki harga yang lebih mahal dari pada yang bulat. Berdasarkan pengalamannya, beras ramping masuk dalam kualitas premium dengan harga Rp9.000 per kilogram. Sedangkan beras bulat hanya bisa masuk kualitas medium dengan harga Rp8.030 per kilogram.

"Kami jual beras ramping (slender) ke pasar lebih mahal dari pada beras bulat (bold), yaitu beras ramping seharga Rp8.500 per kilogram dan beras bulat hanya Rp8.000 per kilogram," katanya.

Lebih lanjut Wawan menjelaskan, beras ramping biasanya berasal dari varietas Ciherang, Mekongga, Inpari dan lain-lain. Sedangkan beras bulat berasal dari varietas Cibatu, Cilamaya Muncul dan lain-lain. Semua varietas tersebut ditanam oleh petani Majalengka, meskipun Ciherang tetap merupakan varietas favorit petani. 

"Ciherang itu rasanya enak, produktivitasnya tinggi, dan harga jualnya bagus," kata Hasan petani dari Desa Ligung, Kecamatan Ligung,  Kabupaten Majalengka. 

Pemulia padi dari Balai Besar Litbang Padi, Sukamandi Dr Indrastuti mengatakan, semua varietas tersebut di atas adalah produk Badan Litbang Pertanian kecuali Cibatu yang berasal dari varietas lokal. Ada lagi varietas Batutegi, tanamannya tinggi, kokoh, malai panjang, lebat, daun agak lebar, jumlah butir per malainya banyak, dan gabahnya bulat. 

"Dalam hal rasa sebenarnya Ciherang (ramping) dan Cilamaya Muncul (bulat)  sama-sama pulen dengan kandungan amilosa medium sekitar 20 persen," kata Indrastuti.

Hanya saja, lanjutnya, para pemilik rice miling unit (RMU) lebih menyukai beras ramping, karena umumnya RMU diseting untuk beras ramping. "Kalau mau menggiling beras bulat maka perlu seting ulang yang memerlukan waktu," kata Indrastuti menambahkan.

Saat ini, katanya panen padi di Kabupaten Majalengka hampir selesai. "Tapi pasokan gabah dari kabupaten tetangga yaitu dari Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon," kata Wawan menambahkan. Hal ini diamini oleh Muhammad Yunus pemilik PB Sri Wulan. "Pabrik beras kami tetap beroperasi hingga panen musim gadu nanti, meskipun kami harus cari gabah ke Jateng seperti Demak dan Kudus terlebih dahulu karena disana panen musim gadunya lebih awal," kata Yunus. 

Keuntungan bisnis beras sebetulnya tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp40-50 per kilogram. Jika keuntungan hingga Rp100 per kilogram menjadi salah satu pencapaian yang hebat. 

"Rp100 per kilogram itu sudah hebat," kata Haji Dadang Rahmana pemilik PB Sri Ratna.

Meski bisnis ini memerlukan modal besar, tapi bila rendemen gabah ke beras sekitar 60 persen maka keuntungan tersebut hanya Rp5-6 juta. Perhitungan tersebut jika 200 ton gabah kering panen dengan kadar air 16-17 persen dan harga Rp5.000 per kilogram, maka perlu modal sekitar Rp1 milyar.

Prof. Dedi Nursyamsi Kepala Bbsdlp, Bogor sekaligus anggota Tim Sergap Jabar mengatakan, pengusaha beras memperoleh keuntungan bukan hanya dari selisih biaya penjualan dan biaya produksi beras tapi ada keuntungan lain. Para pengusaha beras umumnya memiliki RMU, pengering, kendaraan truk, dan lain-lain. Dengan demikian biaya produksi penggilingan, pengeringan dan transportasi, dan lain-lain akan kembali ke kantong mereka sebagai jasa. 

Lebih lanjut Dedi menjelaskan, para pengusaha beras juga mendapat keuntungan dari hasil samping RMU. Mereka bisa menjual dedak, bekatul, dan menir kepada para peternak itik untuk pakan. 

Hanya saja hingga saat ini mereka belum bisa memanfaatkan limbah sekam padi. Dedi menjelaskan, sekam padi bisa dibuat pupuk biosilika. Pupuk ini sangat diperlukan tanaman padi terutama di tanah-tana tua seperti Oxisol, Ultisol, dan lain-lain. Di Taiwan, sekam padi dibuat biochar untuk energi pemanas drier saat pengeringan padi. 

"Bahkan RMU yang kapasitasnya besar bisa menjual sebagian biochar nya ke PLN nya Taiwan," kata Dedi menambahkan.

Haji Bebeng Wasban MPd pemilik PB Bakti Rizki mengatakan, untuk mengamankan pangan nasional, pihaknya siap pasok beras ke Bulog. Bebeng merupakan mitra Bulog yang memberikan kontribusi beras terbesar di Sub Divre Cirebon. Tahun lalu saja Bebeng setor beras ke Bulog sekitar 5.000 ton.

"Saya hanya menjual beras ke Bulog saja tidak ke tempat lain karena harganya pasti dan prosesnya mudah dan cepat. Bila GD1M (rekap pemasukan beras) dari gudang diterima, maka langsung diproses ke kantor Sub Divre Cirebon dan hari itu juga uang bisa dicairkan di BRI," jelas Bebeng.

Editor: Intan Nirmala Sari

Sumber: Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)