Home » Inspirasi » Riwayat

S.K. Trimurti, Srikandi Revolusi (2)

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

DI SAAT yang bersamaan, Trimurti tengah mengandung anak pertamanya. Putra pertama yang diberi nama Moesafir Karma Boediman (MK Boediman) itu akhirnya tumbuh di dalam sel penjara.

Pada saat mengandung anaknya yang kedua pada 1941, Trimurti kembali masuk ke dalam penjara. Bulan Juni 1942, anak kedua itu lahir dan diberi nama Heru Baskoro. Lagi-lagi, seperti kakaknya, Heru dibesarkan di dalam penjara.

Ketajaman penanya yang telah membuatnya keluar-masuk penjara tak menjadikannya jera. Pada peringatan Hari Kartini, 21 April 1944, di Sinar Baroe, dengan tandas, Trimurti mengingatkan perempuan di masanya untuk melanjutkan cita-cita Kartini. “Bekerja, berbuat…! Inilah semboyan zaman sekarang. Zaman yang segala-galanya harus serbacepat dilakukan, zaman yang tiap-tiap detiknya harus dipergunakan! Zaman perang! Zaman mobilisasi! Zaman pengerahan tenaga, pengerahan pikir, dan pengerahan jiwa!”

Sampai akhirnya, Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan juga, setelah itu dalam mengisi kemerdekaan, tak pantas untuk tak menyebut nama S.K. Trimurti sebagai salah satu tokoh perempuan yang turut andil. Berkat pengetahuan dan aktivitasnya, kita memiliki fondasi atas kemerdekaan ini.

Di tangannya, sebagai seorang perempuan yang pertama kali dalam sejarah Indonesia diangkat menjadi Menteri Perburuhan, lahir undang-undang perburuhan yang berpihak pada perempuan dan anak-anak sekaligus dianggap sebagai tonggak bagi perjuangan buruh di Indonesia. Undang-Undang No. 33 Tahun 1947 itu dianggap memberikan perlindungan dan jaminan yang besar bagi buruh melebihi apa yang mungkin didapat buruh di Eropa.

Trimurti, sebagai salah seorang menteri, sebenarnya dia mendapat jatah rumah di kawasan elite, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, jatah rumah itu ditolaknya.

Perempuan berwatak keras ini lebih memilih hidup sederhana di Jalan Kramat Lontar H-7, Senen, Jakarta Pusat. Pemilihan itu dilakuan Trimurti karena dia ingin lebih dekat dengan rakyat kelas bawah.

Meski umur mulai menggerogoti tubuhnya, namun semangat Trimurti masih tetap terjaga. Hidup sederhana tak membuatnya sepi kegiatan.

Pada masa Orde Baru, Trimurti diketahui masih aktif mengikuti diskusi Petisi 50 dengan menggunakan bus.

"Sebelum itu (kecelakaan hebat yang membuat Trimurti berjalan pakai tongkat), Ibu masih pergi ke mana-mana. Pada usia 82 tahun, Ibu masih naik bus," ucap Heru Baskoro, sang anak.

Pekerjaan di rumah juga dilakukan Trimurti seorang diri, seperti mencuci piring hingga mencuci baju.

Tepat di hari kebangkitan Nasional, 20 Oktober 2008, Trimurti dipanggil Tuhan Yang Maha Esa di usia ke-96. Di hari itu pula, rekannya, Ali Sadikin, juga turut dipanggil Yang Mahakuasa. Indonesia kehilangan dua tokoh besarnya.

Semangat juang Trimurti setidaknya memberikan pelajaran mendalam bagi bangsa Indonesia. Kesederhanaannya juga seharusnya menampar jiwa-jiwa serakah kita.

Kini, Trimurti telah tiada, namun pemikiran dan tindakannya selalu patut dicontoh para pemimpin negeri ini.

Penulis Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

S.K. TrimurtiSrikandi RevolusiRiwayat

loading...