Home » Inspirasi » Riwayat

S.K. Trimurti, Srikandi Revolusi (1)

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Tubuhnya kurus dan mungil, namun raut wajahnya tegas. Dia berani banting setir dari pekerjaan nyaman sebagai seorang guru menjadi jurnalis yang mengkritik kolonialisme.

Meski seorang perempuan, dia tak gentar mempertahankan keyakinannya, kendati harus keluar-masuk penjara. Itulah Soerastri atau yang lebih dikenal dengan Soerastri Karma Trimurti (S.K. Trimurti).

Putri pasangan R. Ngabehi Salim Banjaransari dan RA Saparinten binti Mangunbisomo itu dilahirkan di Boyolali, Jawa Tengah, pada 11 Mei 1912. Lulus dari Sekolah Ongko Loro, sebuah sekolah bentukan Belanda yang hanya bisa diakses oleh keluarga tokoh terkemuka dan bangsawan kala itu, dia melanjutkan studinya ke Sekolah Guru dan berhasil lulus dengan angka terbaik. Dia pun diangkat sebagai guru di Banyumas.

Namun, Trimurti sangat kritis. Ketidakpuasannya akan kolonialisme lambat laun membuat perempuan penyuka Yoga itu semakin tertarik untuk terlibat masuk dalam kancah perjuangan nasional. Hingga pada suatu hari, pada 1923, dengan menggunakan dokar dari Banyumas ke Purwokerto, Trimurti mencuri kesempatan untuk menyaksikan Bung Karno berpidato, yang dengan berapi-api mampu membakar semangat orang-orang yang menyaksikannya. Bung Karno dengan berani berbicara soal kolonialisme dan imperialisme serta akibat-akibatnya bagi Indonesia. Dia juga menekankan bahwa “hanya kita, sebagai bangsa terjajah, yang mampu membebaskan diri dari kekangan penjajah.”

Sejak saat itu, Trimurti memutuskan untuk berguru langsung pada Soekarno. Kesempatan demi kesempatan dia dapatkan di tengah proses belajarnya dengan Soekarno.

Dia juga sempat berpidato pada rapat umum Partindo saat masih mengajar di Perguruan Rakyat. Akan tetapi, kenekatan Trimurti mengkritik penjajah membawanya sampai ke kantor kepala polisi.

Sang kepala polisi senyum-senyum saja dan bilang, “Nona masih anak-anak. Lebih baik nona meneruskan sekolah daripada dihasut oleh Soekarno.”

Setelah peristiwa itu, semangat perjuangan Trimurti bukannya padam, justru kian membara. Niatnya semakin tebal untuk melepas status sebagai guru dan beralih profesi sebagai jurnalis.

Dengan tintanya, Trimurti menciptakan tulisan-tulisan yang terus membuat gerah penjajah. Selama menjadi jurnalis, Trimurti sempat bekerja di sejumlah media massa seperti Genderang, Bedug, dan Pikiran Rakyat.

Dia pun memutuskan menambah dua kata di namanya, “Karma” dan “Trimurti” sebagai nama samaran dalam artikel-artikelnya. Kedua kata itu digunakannya silih berganti di setiap tulisan.

Di usia yang terbilang masih sangat muda (17-18 tahun), nama Trimurti sudah terdengar. Dia dengan cepat “melek” terhadap situasi politik. Karena itu pula, dia dengan cepat sadar terhadap rasa untuk ingin dan perlunya Negara Indonesia merengkuh kemerdekaannya. Dia sudah tahu apa yang mau dilakukan, dia tahu apa yang dilakukannya, dan akhirnya dia telah memilih cara dia melakukannya.

Pada 1936, Trimurti akhirnya dijebloskan ke penjara Bulu, Semarang, karena membuat pamflet anti-penjajahan. Selama sembilan bulan, Trimurti mendekam di penjara.

Setelah keluar penjara, dia bertemu dengan Sayuti Melik, kelak dikenal sebagai pengetik naskah Proklamasi. Sayuti adalah seorang pejuang eks-Digoel. Mereka menikah pada 1938.

Suatu ketika, Sayuti menulis pada harian Sinar Selatan yang dipimpin Trimurti. Pemuatan tulisan ini membuat Trimurti kembali dijebloskan ke dalam penjara selama dua bulan. (Bersambung)

Penulis Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

SK TrimurtiSrikandi RevolusiRiwayat

loading...