logo rilis

SISULTAN: Aplikasi Lahan di Ujung Jari
Kontributor

13 April 2018, 18:47 WIB
SISULTAN: Aplikasi Lahan di Ujung Jari
FOTO: RILIS.ID/Intan Nirmala Sari

RILIS.ID, Jakarta— Untuk mencapai kedaulatan pangan seperti yang diamanatkan NAWACITA, Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan lahan kering dan lahan rawa. Hal tersebut, kerap ditegaskan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman dalam berbagai kesempatan, bahwasannya saat ini dibutuhkan lahan sekitar 14 juta hektare untuk mencapai Indonesia lumbung pangan dunia di 2045.

Kepala Badan Litbang Pertanian A. M. Syakir mengatakan, bahwa pengembangan komoditas pertanian tanpa peta lahan, ibarat orang buta berjalan di kegelapan malam alias gelap gulita. "Saya ingin menegaskan, bahwa informasi lahan dalam bentuk peta, sangat penting dan strategis dalam pembangunan pertanian," ungkapnya.

Oleh karena itu Balitbangtan sudah memetakan tanah skala 1:50.000 di seluruh kabupaten kota di Indonesia. 

Selain itu, teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat saat ini, harus dimanfaatkan untuk menghantarkan produk peta lahan ke masyarakat. Untuk itulah, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) mengembangkan SISULTAN sebagai media untuk menyajikan informasi geospasial pertanian ke masyarakat, sebagaimana ditegaskan Kepala BBSDLP Dedi Nursyamsi.

"Dengan SISULTAN, maka proses penelusuran informasi lahan dan bagaimana mengelolanya akan cepat, mudah, dan murah," kata Dedi menambahkan.

Aplikasi SISULTAN dapat diakses di www.sisultan.litbang.pertanian.go.id. Aplikasi ini mulai dikembangkan sejak 2013 dan baru release ke publik pada 2016, hingga saat ini senantiasa di-update terus. "Tantangan terbesar dari upaya ini adalah, merangkum dan mengharmoniskan data peta yang ada. Peta lahan skala 1:50.000 dirangkum dan dianalisis dan hasilnya disajikan dalam aplikasi ini, papar Yiyi Sulaeman, Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian BBSDLP di acara Workshop IGAS di Bogor yang berlangsung hingga hari ini. 

"Sekarang, masyarakat dapat melihat kondisi dan potensi lahannya secara lebih cepat dengan klik aplikasi ini di laptop, tablet atau smartphone nya," tambah Yiyi yang juga pengembang aplikasi ini.

"Ini aplikasi yang diperlukan untuk daerah, dan kami di Boalemo sangat terbantu," ungkap Kepala Dinas Kabupaten Boalemo Nurdin, yang juga Dosen Universitas Negeri Gorontalo.

Ini diamini oleh Perwakilan World Bank atau Bank Dunia, Laela saat berkunjung ke BBSDLP yang mengatakan bahwa aplikasi ini sangat bermanfaat dan kami sangat apresiasi karena bisa mengarahkan investasi dan riset.

Keseriusan Balitbangtan dalam pengembangan aplikasi lahan untuk rakyat telah dibuktikan dengan membangun Laboratorium Innformasi Geospasial dan Analisis Sistem (IGAS) yang berlokasi di Bogor. Lab ini mempunyai 3 divisi, yaitu: divisi informasi geospasial untuk membuat peta-peta tematik pertanian, divisi analisis sistem untuk simulasi dan pemodelan, dan divisi sistem informasi yang mengembangkan aplikasi untuk percepatan penyajian informasi ke masyarakat. Jadi, pengembangan aplikasi ini memang perlu pentahapan dan pemaketan informasi sehingga sesuai keperluan pengguna", demikian Dedi menjelaskan saat ditanya tentang lab yang ada di BBSDLP.

SISULTAN ini merupakan pintu awal untuk mengetahui potensi daerah dan terbuka untuk pendalaman. Beberapa pengguna langsung menghubungi BBSDLP, Badan Litbang Pertanian. "Minggu lalu kami dikunjungi oleh utusan Bupati Kabupaten Sinjai terkait pendetilan informasi dan asistensi setelah melihat informasi geospasial ini", imbuh Yiyi.

Dilihat dari caranya untuk melihat peta, SISULTAN ini adalah peta di ujung jari. Pengguna bisa menelusuri informasi daerah per daerah. Cukup beralasan, data ini penting diketahui oleh kita untuk berbagai kepentingan pembangunan.

Sumber: Yiyi Sulaeman/Nunik Rachmadiyanti


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)