logo rilis
Sidang Sengketa Lahan Tokyu Land Berlanjut ke Penyerahan Bukti Awal
Kontributor
Nailin In Saroh
16 Mei 2018, 13:25 WIB
Sidang Sengketa Lahan Tokyu Land Berlanjut ke Penyerahan Bukti Awal
Sidang ke-IV sengketa lahan antara GP dan TLI di PN Jakpus, Rabu (16/5/2018). FOTO: RILIS.ID/Nailin Insaroh

RILIS.ID, Jakarta— Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) melanjutkan sidang kasus sengketa lahan antara PT Grandpuri Permai (GP) dengan PT Tokyu Land Indonesia (TLI), Rabu (16/5/2018). 

Majelis Hakim memutuskan sidang kali ini hanya menentukan waktu sidang lanjutan pada 30 Mei 2018 mendatang terkait penyerahan bukti awal kedua belah pihak. Mengingat, pihak tergugat, yakni TLI telah memberikan eksepsinya pada sidang minggu lalu pada 2 Mei 2018.

"Dilanjutkan lagi pada tanggal 30 Mei 2018, karena ada eksepsi tentang kewenangan. Kalau mengajukan bukti awal, silakan. Kalau ada bukti awal ajukan dulu. Kalau nanti putusan sela dikabulkan baru ada pembuktian," ujar Majelis Hakim di PN Jakpus, Rabu (16/5/2018).

"Tidak menutup kemungkinan adanya perdamaian," tambah majelis hakim.

Saat dikonfirmasi, pengacara TLI enggan menjelaskan terkait pembuktian awal. Melalui kuasa hukumnya, Budhiwisnu Harahap, mengatakan, soal agenda sudah ditentukan majelis hakim. Adapun soal bukti awal yang menjadi materi sidang, Wisnu menuturkan, harap ditanyakan ke majelis hakim.

"Iya dua minggu lagi. Agendanya seperti itu. Silakan, nanti ditanyakan kepada majelis hakim," katanya.

Sementara, Kuasa Hukum GP, Prio Trisnoprasetio memaparkan, setelah pihaknya menyampaikan replik, tergugat juga diberi kesempatan untuk menanggapi. 

"Tadi setelah dijadwalkan akan berlangsung pada 30 Mei yang akan datang. Kemudian, karena majelis hakim melihat ada eksepsi mengenai kewenangan, maka hakim memberi kesempatan pada pihak tergugat dan penggugat menyerahkan bukti awal mengenai yang dapat mendukung kewenangam pengadilan," jelas Tio.

"Setelah itu, biasanya dilakukan dengan pemeriksaan selanjutnya," katanya menandaskan.

Baca juga: Tokyu Land Indonesia Digugat atas Penguasaan Tanah Ilegal Apartemen Branz Simatupang

Sebelumnya, PT GP menggugat PT TLI lantaran diduga telah menguasai tanah milik GP secara tidak sah sekitar 2.741 meter persegi. Luas tanah tersebut merupakan sisa tanah milik GP yang saat ini dibangun apartemen mewah dengan nama Branz Simatupang oleh TLI.

TLI sendiri adalah sebuah perusahaan properti asing yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Tokyu Land Corporation, Jepang. Pihak GP mendaftarkan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 14 November 2017 dengan perkara No. 613/PDT/2017/PN.JKT.PS. 

Gugatan ini berawal dari Perjanjian Peningkatan Jual Beli Antara TLI dan GP atas sembilan sertifikat dengan luas keseluruhan sebesar 15.262 meter persegi (yang bersertifikat) dari penguasaan total oleh GP sebesar 18.003 meter persegi.

Menurut Prio Trisnoprasetio, TLI memasukkan sebagian, atau keseluruhan dari selisih luas tanah sebesar 2.741 meter persegi tersebut, baik sebagai bagian dari areal yang dibangun pada Branz Simatupang, atau menyerahkan penguasaan, atau kepemilikannya kepada pihak lain, tanpa persetujuan GP.

Padahal, GP meyakini dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli tidak memasukkan selisih luas tanah itu sebagai bagian dari jual beli tersebut.

Diketahui, GP adalah sebuah PMA yang bergerak di bidang perhotelan dan dimiliki sebagian besar oleh pengusaha berkewarganegaraan Jepang. Pada waktu akan memulai usahanya di Indonesia, GP melakukan pembebasan tanah secara bertahap seluas 18.003 meter persegi yang dimulai pada 1992 sampai 2011. 

Dikarenakan pada saat itu terdapat rencana jalan oleh Pemerintah, maka GP hanya dapat mensertifikatkan sebagian luas 15.262 meter persegi. Walaupun demikian, GP tetap menguasai sisa lahan tanah tersebut tanpa memperoleh gangguan atau gugatan oleh pihak manapun hingga 2013, pada saat tanah tersebut dialihkan ke TLI. 

"Grandpuri Permai menggugat Tokyu Land Indonesia atas perbuatan melawan hukum terhadap penguasaan tanah secara tidak sah seluas 2.741 meter persegi. Untuk itu, GP menuntut ganti rugi sebesar Rp300 miliar kepada TLI ditambah dengan denda Rp5 juta jika TLI lalai menjalankan putusan Pengadilan," tegas Tio, di PN Jakarta Pusat, Rabu (11/4/2018).

Disamping itu, lanjutnya, karena menyangkut kepastian hukum atas obyek gugatan, GP juga memohon majelis hakim untuk melakukan sita jaminan atas lahan yang sekarang digunakan TLI sebagai lahan apartemen Branz Simatupang.

Tio menambahkan, gugatan tersebut juga disertai dengan tuntutan agar TLI menghentikan segala kegiatan yang berhubungan dengan komersialisasi lahan tersebut. Mencakup pelaksanaan konstruksi, penjualan unit, dan serah terima unit apartemen kepada konsumen yang terlanjur membeli. 

Untuk mencegah adanya kerugian lebih lanjut, Tio mengimbau semua stakeholder, atau pihak yang memiliki kepentingan terhadap pembangunan Branz Simatupang untuk menunda, atau membatalkan segala transaksi yang berkaitan dengan proyek tersebut.

"Apabila perkara ini berjalan kemudian ada sita jaminan atas objek perkara, maka otomatis semua pihak tidak bisa lakukan apapun terhadap objek perkara," jelasnya.

"Untuk itu perlu diberitahukan juga bahwa ini berpotensi kerugian. Jangan kan konsumen, kontraktor aja bisa rugi," tambah Tio.

Tio meyakini, GP akan menang dalam proses hukum yang sudah dinegosiasikan oleh pihak TLI . Namun, dalam proses negosiasi tersebut, TLI tidak bersedia merespons GP sehingga diteruskan dalam pengadilan.

"Simpel aja, kami ini menjual 15.262 meter persegi, yang dikuasai saat itu 18.003 meter persegi. Saat mereka gunakan pagar yang di luar itu artinya mereka menggunakan sisa tanah yang sebetulnya belum diperjualbelikan. Keyakinan kita itu dalam semua perjanjian dokumentasi transaksi tidak dicantumkan 18.003 meter persegi," tukasnya. 

Menyikapi gugatan itu, kuasa hukum TLI lainnya, Ahmad Irfan Arifin mengatakan, pihaknya akan mengikuti proses hukum yang berlaku. Irfan juga mengaku pihaknya sudah menelaah perkara ini, dan memiliki cukup bukti untuk memenangkannya di pengadilan.

Editor: Eroby JF


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)