logo rilis

Sidang e-KTP, Oka Masagung Masih Sering Jawab Lupa
Kontributor
Tari Oktaviani
14 Maret 2018, 13:02 WIB
Sidang e-KTP, Oka Masagung Masih Sering Jawab Lupa
Sidang korupsi e-KTP. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Majelis Hakim pengadilan tindak pidana korupsi mencecar tersangka kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP), Made Oka Masagung di persidangan Setya Novanto. 

Berulang kali, hakim meminta agar Oka berterus terang mengingat ia tak pernah mengakui pernah menerima uang dari luar negeri untuk diberikan ke keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi.

"Masuk US$1,799 juta, saya tidak tahu yang mengirimnya siapa sampai dibilangin sama pak penyidik yang ternyata dikirim Biomorf Mauritius," kata Oka menjawab pertanyaan majelis hakim di pengadilan tindak pidana korupsi, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Lalu Ketua Majelis Hakim Yanto menanyakan kembali ke Oka perihal penerimaan uang dari Singapura tersebut. Namun Oka tetap mengaku tidak tahu asal usul uang masuk ke rekeningnya itu.

"Jadi nggak tau itu dari biomorf? Artinya anda tidak ingat?" tanya hakim Yanto.

"Saya ingat tapi tidak tahu (asal usul uang)," jawab Oka.

Merasa tak puas dengan jawaban Oka, Hakim Yanto kemudian menanyakan kemana uang itu saat ini. Tetapi, Oka berkilah tak mengetahuinya karena tiba-tiba sudah tidak ada di rekeningnya.

"Boleh rekening anda ditarik orang?" tanya Hakim Yanto.

"Enggak bisa," kata Oka.

"Jadi anda tahu itu ditarik? Apakah boleh uang itu masuk ke rekening saudara lalu ditarik tanpa tanda tangan saudara?" tanya lagi hakim.

"Tidak bisa yang mulia. Tapi saya lupa yang mulia," Jawab Oka.

"Yakin lupa atau melupakan? Itu uang segitu besar loh? Ada yg hubungin saudara nggak?" tegas Hakim.

"Yang mulia saya sangat malu sekali," kata Oka.

Lebih jauh meskipun majelis hakim berulang kali menanyakan penerimaan dan aliran uang dari perusahaan Johannes Marliem, Bimorf Mauritius, namun Oka tetap mengaku lupa. 

Sehingga hakim mengingatkan Oka terkait ancaman pidana terlebih Oka saat ini berstatus tersangka.

"Saya tidak bisa menekan saudara mau bohong atau apa, tapi majelis bisa menilai keterangan saudara ya, saudara selalu bilang lupa dan hanya yang tertentu-tertentu saja yang anda lupa," kata Hakim Yanto.

Diketahui hari ini Made Oka Masagung dengan keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi dikonfrontir di persidangan Setya Novanto. 

Kedua tersangka itu masih ditanyakan terkait aliran uang dari luar negeri yang diduga merupakan hasil dugaan korupsi e-KTP.

Ini mengingat sebelumnya terungkap ada uang sekitar US$4,855 juta yang masuk di rekening Oka yang ada di OCBC Bank dan DBS Bank, di Singapura, pada 2012. 

Ada pun rinciannya, pada 15 Juni 2012, sebanyak US$1,8 juta dari Direktur Biomorf Lone LLC Johannes Marliem, pada 10 Desember sebesar US$2 juta dari Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo.

Jaksa KPK menilai ada kejanggalan. Pasalnya, Oka kembali memutar uang dengan mengirimkannya, dalam bentuk transfer dan cek, sebesar US$10 ribu ke sejumlah pihak.

Sebelumnya, Made Oka Masagung dan Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo (IHB), ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi e-KTP.

Irvanto dan Made diduga bersama-sama dengan terdakwa kasus korupsi e-KTP lainnya, seperti Setya Novanto, Anang Sugiana Sudihardjo selaku Direktur Utama PT Quadra Solution, Andi Agustinus alias Andi Narogong, kemudian Irman dan Sugiharto, dianggap menguntungkan diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi. 

Perbuatan keduanya pun menyalahgunakan wewenang sehingga diduga merugikan negara Rp2,3 triliun dari nilai proyek Rp5,9 triliun.

"IHB diduga sejak awal mengikuti proses pengadaan e-KTP dengan perusahaannya PT Murakabi Sejahtera dan ikut beberapa kali pertemuan di sebuah ruko di Fatmawati bersama tim penyedia barang proyek e-KTP," paparnya.

Agus juga mengatakan, Irvanto diduga mengetahui permintaan fee 5 persen untuk mempermudah proses pengurusan anggaran proyek e-KTP di DPR.

"Diduga IHB menerima total US$3,5 juta pada periode 19 Januari-19Februari 2012 yang diperuntukan kepada Setya Novanto secara berlapis melewati sejumlah negara," ungkapnya.

Sedangkan Made Oka selaku pemilik PT Delta Energy diduga perusahaannya menjadi perusahaan penampung dana rasuah e-KTP. 

Sehingga total ia menerima US$3,8 juta sebagai peruntukan pada Setya Novanto, yakni melalui OEM Investmen Pte US$1,8 juta, melalui Biomorf Mauritius dan PT Delta Energy sebesar US$2 juta.

"MOM diduga sebagai perantara fee untuk anggota DPR sebesar 5 persen dari nilai proyek tersebut," paparnya.

Atas perbuatannya itu, Irvanto dan Made disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) subsider Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsj jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Editor: Kurnia Syahdan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)