Arif Budiman

Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan

Siapa Menukar Manhattan dengan Banda?

Senin, 23/10/2017 | 22:48

KIDS zaman now mungkin lebih mengenal Manhattan dibanding Banda. Meski sama-sama pulau, nasib keduanya saat ini berbalik 180 derajat dibanding situasi dan kondisi pada empat abad yang lampau. Kini, Manhattan adalah kota bagian (borough) modern yang memiliki penduduk terpadat dibanding empat kota bagian lain yang membentuk Kota New York, yaitu The Bronx, Brooklyn, Queens, dan Staten Island. 

Manhattan sekarang adalah pusat administrasi, perekonomian, dan kebudayaan yang serbagemerlap. Berbagai ikon kemajuan dan modernitas berdiri gagah di atasnya. Empire State Building, Central Park, Time Square, dan panggung pertunjukan Broadway bercokol kokoh dan anggun. Dalam ungkapan sederhana, dapat kita katakan bahwa jika dunia adalah Amerika, dan Amerika adalah New York, maka wajah modern New York terletak di Manhattan. 

Empat abad yang lalu, tepatnya pada 1626, Manhattan yang ketika itu bernama New Amsterdam hanyalah sebuah wilayah biasa yang tak terlalu menarik bagi para penjelajah. Hanya dengan harga 60 guilders atau tak lebih dari US$1500 nilai sekarang, Belanda membelinya dari penduduk asli Amerika. 

Sementara itu, pada waktu yang sama, Belanda telah melabuhkan kapalnya di perairan Pulau Banda. Tujuannya adalah membeli rempah-rempah berharga murah dari penduduknya. Padahal, bagi masyarakat Eropa kala itu, pala dan fuli bernilai sangat tinggi. Harganya bahkan melebihi emas. Mereka turun bersama tentara dan pekerja, mengikat janji dengan para pemuka warga yang disebut Orang Kaya. Mulanya sebatas kendali transaksi pala dan fuli. Namun, ketamakan akhirnya membuat Belanda lupa diri. VOC ingin monopoli. 

Sejarah kemudian mencatat, rempah-rempah Pulau Banda tak hanya ditukar dengan uang, tetapi juga dengan darah. Keserakahan mematikan kemanusiaan. Gundukan uang membutakan mata dan hati. VOC tak ingin menjalin kerja sama yang setara dengan penduduk Banda. Belanda ingin kehendaknya tak dibantah. Mereka ingin keuntungan yang sebesar-besarnya. Penjajah ingin menguasai segalanya.

Walhasil, kas negara Belanda berlimpah. Amsterdam berhasil mereka bangun dengan megah dan indah, dari hasil penjualan rempah-rempah Pulau Banda. 

Monopoli menjadi pilihan strategi. Cara efektif untuk mengumpulkan amunisi demi membangun wilayah dan meluaskan koloni. Manakala Pulau Banda menjadi tambang uang yang tak terperi, penguasaan atasnya tak bisa dikecuali. Karena itu, Pulau Run yang berada dalam gugusan Kepulauan Banda dan masih dikuasai Inggris harus juga masuk dalam kendali.

Bertemulah Inggris dan Belanda di Kastil Breda pada Juli 1667. Demi mengukuhkan monopoli atas rempah-rempah, Belanda bersedia menukar Manhattan dengan Pulau Run yang dikuasai Inggris. Begitu saja. Tanpa mempertimbangkan pendapat masyarakat kedua wilayah. 

Penjajah tak pernah menaruh hati pada wilayah koloni, apalagi peduli dan simpati pada warganya. Satu-satunya motivasi adalah ekonomi. Meski goldgloryand gospel yang tersiar, sejatinya akumulasi modallah yang menjadi tujuan. Siapa yang mendukung pencapaian tujuan penjajah itu, maka baginya hadiah harta, takhta, dan wanita. Sebaliknya, siapa yang merundung, bersiaplah kehilangan nyawa.