logo rilis
Setya Novanto Terima 'Fee' e-KTP US$2,6 Juta Tanpa Transfer
Kontributor
Fatah H Sidik
12 Januari 2018, 05:45 WIB
Setya Novanto Terima 'Fee' e-KTP US$2,6 Juta Tanpa Transfer
Terdakwa kasus dugaan korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP), Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Terdakwa kasus dugaan korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP), Setya Novanto, disebut-sebut menerima uang US$2,6 juta tanpa melalui transfer bank. Untuk mendapatkan duit tersebut, diduga melibatkan pengusaha penukaran uang (money changer).

Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) pun berupaya membuktikan aliran uang proyek e-KTP itu sela persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (11/1/2018). JPU menghadirkan Juli Hara, pengusaha money changer, sebagai saksi untuk Setya.

Mulanya, keponakan Setya, Irvanto Hendra Pambudi, mendatangi pengusaha penukaran uang di Jakarta, Riswan, medio Januari 2012. Irvan menyatakan, memiliki uang dalam mata uang dolar Amerika Serikat di Biomorf Mauritius dan ingin ditransfer ke Indonesia.

Riswan kemudian menghubungi Juli untuk membantu proses pengirimannya. Pengiriman pun direncanakan tanpa melalui transfer bank alias memakai metode barter.

Juli lantas meminta rekan sesama pengusaha money changer di Singapura mencari beberapa klien perusahaan yang ingin membeli dolar AS. Selanjutnya, tiap korporasi diminta mengirimkan rekeningnya.

Selanjutnya, Juli menyerahkan rekening perusahaan tersebut kepada Irvanto. Setelah itu, diteruskan kepada Mauritius.

Berdasarkan skema yang ditampilkan JPU, ada beberapa perusahaan penerima uang dari Biomorf. Di antaranya, Kohler Asia Pasific dan Cosmic Enterprise masing-masing US$200 ribu serta Sunshine Development US$500 ribu. Salah satu rekening Juli di UOB Bank Singapura pun menjadi penerima uang dari Biomorf sebesar US$200 ribu.

Kemudian, money changer rekanan Juli menyerahkan pembelian dolar AS dari masing-masing korporasi ke rekening Juli di Singapura. Juli lantas menarik uang tunai miliknya untuk diberikan kepada Riswan.

Lalu, Riswan menyerahkan uang tunai miliknya kepada Irvanto. Riswan pun mendapat fee sebesar Rp100 per dolar AS. Kemudian, membagi keuntungan dengan Juli sebesar Rp40 per dolar AS.

Sebagai informasi, perusahaan Biomorf Mauritius adalah korporasi asing yang menjadi salah satu penyedia produk biometrik merek L-1 dan dipakai dalam pengadaan e-KTP. Perwakilan Biomorf adalah Johannes Marliem, salah satu pengusaha yang memberikan uang kepada Setya.


#Setya Novanto
#e-KTP
#KPK
#Pengadilan Tipikor
500
komentar (0)