logo rilis
Setya Novanto Divonis 15 Tahun Penjara, Hak Politiknya Dicabut
Kontributor
Tari Oktaviani
24 April 2018, 14:36 WIB
Setya Novanto Divonis 15 Tahun Penjara, Hak Politiknya Dicabut
Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Setya Novanto, divonis pidana penjara selama 15 tahun penjara oleh majelis hakim tindak pidana korupsi. Tak hanya itu saja, ia juga dikenakan denda sebesar Rp500 juta subsider tiga bulan.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Setya Novanto pidana penjara 15 tahun denda Rp500 juta subsider 3 bulan," kata ketua Majelis Hakim Yanto di pengadilan tindak pidana korupsi, Jakarta, Selasa (24/3/2018).

Menurut hakim, Setya Novanto telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi untuk menguntungkan diri sendiri maupun orang lain. Untuk itu, ia terbukti memenuhi unsur Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1.

"Terdakwa Setya Novanto telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," paparnya.

Selain itu, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu juga dikenakan pidana tambahan dengan mewajibkan ia membayar uang pengganti sebanyak US$7,3 juta dikurangi Rp5 miliar yang sudah dikembalikan Novanto.

"Dengan ketentuan apabila tidak bayar saat satu bulan setelah adanya putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap maka harta benda akan disita. Apabila harta benda tidak cukup maka diganti pidana 2 tahun," ungkapnya.

Tak hanya itu saja, hakim Yanto juga mengabulkan tuntutan Jaksa untuk pidana tambahan berupa pencabutan hak politik selama 5 tahun.

"Mencabut hak terdakwa untuk duduki jabatan publik 5 tahun," paparnya.

Mendengar putusan itu, kedua belah pihak baik pihak Setya Novanto maupun Jaksa Penuntut Umum sepakat meminta waktu untuk menentukan langkah hukum berikutnya.

"Terima kasih yang mulia tanpa mengurangi rasa hormat setelah saya konsultasi dengan tim penasehat hukum saya minta waktu," paparnya.

Hakim menilai Novanto terbukti menerima uang US$7,3 juta. Uang itu berasal dari Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo dan Johannes Marliem dari perusahaan Biomorf. 

Pemberian uang kepada Novanto melalui pengusaha Made Oka Masagung dan keponakannya Irvanto Hendra Pambudi. Berdasarkan fakta persidangan, kata hakim, uang kepada Novanto dialirkan melalui sistem barter antar money changer. 

Selain itu, Novanto juga terbukti menerima jam tangan merek Richard Mille tipe RM 011 seharga US$135 ribu. Ja‎m tangan yang harganya sekitar Rp1,3 miliar itu diberikan oleh Andi Narogong dan Johannes Marliem dari perusahaan Biomorf. Pemberian itu sebagai ucapan terima kasih karena telah meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR RI. 

Dalam menjatuhkan putusan, hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Untuk hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa dinilai tidak mendukung upaya pemerintah yang sedang giat-giatnya melakukan pemberantasan korupsi. ‎Sementara hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan sopan selama persidangan.

‎Adapun vonis ini lebih ringan satu tahun dibanding tuntutan Jaksa. Sebelumnya, ia dituntut jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan hukuman 16 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan.

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)