logo rilis

Setya Novanto Bareng Politisi Golkar kala Dicari-cari KPK
Kontributor
Tari Oktaviani
27 April 2018, 13:56 WIB
Setya Novanto Bareng Politisi Golkar kala Dicari-cari KPK
Setya Novanto saat mendengan vonis dari Majelis Hakim. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto mengatakan, saat dicari-cari oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada pertengahan November lalu, ia bersama dengan politisi Golkar Aziz Samual dan ajudannya Reza Pahlevi di Sentul. Menurutnya, saat itu ia habis menghadiri acara Golkar.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi saksi untuk terdakwa dokter Bimanesh Sutardjo di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (27/4/2017).

"Hanya (bersama) ajudan saya saja, nah malemnya ada Aziz Samual, itu ikut sama saya. Dia nyetir terus dia minta izin jam 1 dia mau pulang, mau ganti pakaian. Nah, saya nginep cuma sama Reza. Terus saya mandi, paginya saya bangun. Saya keluar hotel, kalau enggak salah Aziz itu datang jam 10-an jemput, dia bawa mobil sendiri," kata Novanto.

Lalu, ia mengaku memang niat menyerahkan diri ke KPK. Namun, Novanto ingin menyempatkan diri bertemu dengan DPD I Golkar mengingat agenda itu sudah terjadwal jauh hari.

"Ya, kita di sana memutuskan untuk ke KPK. Cuma, karena kita itu janjinya jam 7-8 sama DPD I kita mau kumpul, makanya, ya, kita pikirlah cari waktunya gimana," paparnya.

Sebelumnya, Setya Novanto mengalami kecelakaan saat dicari oleh penyidik KPK pada pertengahan November lalu. Ia hendak dijemput paksa oleh penyidik karena sudah beberapa kali mangkir dari panggilan KPK. Hingga akhirnya ia ditetapkan sebagai DPO.

Dalam kasus ini, dokter Bimanesh bersama Fredrich Yunadi didakwa merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setnov. Mereka berdua diduga memanipulasi data medis Setnov agar bisa dirawat.

Bimanesh dan Fredrich Yunadi disebut merekayasa agar Setnov dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau pada pertengahan November 2017 untuk menghindari pemeriksaan penyidik KPK.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)