logo rilis
Setelah Gus Dur, Selamat Natal
kontributor kontributor
Dadang Rhs
25 Desember 2017, 12:34 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Setelah Gus Dur, Selamat Natal

"GITU aja kok repot." Kalimat ringan ini begitu populer saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden republik ini. Begitulah gaya Gus Dur, demikian sapaan akrab presiden ke-4 RI ini. Lelaki ini terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. Gus Dur lahir di Denanyar Jombang, pada 7 September 1940. Gus Dur adalah cucu Hadratussyeh KH Hasyim Asy'ari, ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama. Ayahnya, Wahid Hasyim adalah menteri agama di era kepemimpinan Presiden Soekarno.

Gus Dur memang Sang Penakluk, sebagaimana arti Addakhil, nama belakangnya. Di saat ia memimpin Nahdlatul Ulama, ia memilih jalan yang tak lazim saat itu. Gus Dur, menempatkan dirinya di seberang kekekuasan rezim Soeharto. Pilihan yang tak mudah ini membuatnya menaklukkan banyak hati orang-orang yang tertindas saat itu. Ia menaklukkan hati anak-anak muda yang marah dengan keadaan. Ia menaklukkan hati tokoh-tokoh yang belum mantap hatinya untuk melawan tirani. Ia menaklukkan kegenitan kaum intelektual.

Baca Juga

Di saat jalan demokrasi masih sepi, Gus Dur menapakinya dengan ringan. Ia terbuka menentang kekuasaan. Tak ada risau. Bahkan terlihat santai. Gus Dur memang antitesa zamannya. Ia tidak linear. Ia bergerak zig-zag. Kadang ia begitu frontal. Seperti saat secara terbuka menentang kekuasaan yang ingin turut campur pada Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat. Tapi, ia bisa tiba-tiba tampak mesra dengan Tutut, panggilan akrab Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung musuh utamanya Soeharto. Gaya zig-zag Gus Dur ini kadang membuat para pendukungnya bingung. Dalam guyonan, ada yang bilang Gus Dur itu bergeraknya seperti Bajaj. Kalau mau belok tidak pakai sinyal. Tiba-tiba.

KH Aburrahman Wahid adalah sosok yang fenomenal. Ia tak melihat perbedaan sebagai permusuhan. Baginya, perbedaan sikap politiknya dengan Soeharto, bukan berarti ia tak bisa "berteman" dengan putri sang jenderal bintang lima ini. Saya pernah menyaksikan secara tidak sengaja, bagaimana keteguhan sikapnya dalam menentang kekuasaan rezim otoriter Soeharto. Suatu saat, di awal tahun 1990-an, ketika Gus Dur sedang menjabat Ketua Umum PBNU. Di ruang tengah Kantor PBNU di Keramat Raya, saya menyaksikan, Gus Dur menegur keras kemenakannya. Di ruang itu ada empat orang. Hanya saya yang bukan bagian dari keluarga Wahid. "Sing ponakan iku kowe opo aku? Aku sedang nglawan Soeharto..." Kalimat dalam bahasa Jawa ini disampaikan dengan nada tinggi. Ia serius. Begitulah Gus Dur. Kini, teguran itu berbuah, kedua kemenakannya itu sekarang menduduki posisi penting saat ini.

Keteguhan sikapnya ini juga tampak dalam hal membela kelompok-kelompok minoritas. Di zaman ia menjadi presiden, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mendapatkan kembali pengakuan identitasnya. Begitu pun pembelaan Gus Dur terhadap keberagaman.

"Kalaupun ada yang mencoba memisahkan kita, kita semua harus sadar bahwa persaudaraan yang lebih besar di antara kita memanggil kita bersama-sama untuk meyakini Tuhan masing-masing dengan cara sendiri-sendiri. Karena itu, saya tidak pernah merasa terasing dari saudara-saudara yang beragama lain, Hindukah, Kristenkah, Buddhakah..." Demikian pidato Gus Dur, pada acara Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional di Balai Sidang Senayan, Jakarta, Senin (27/12/1999).

Sikap dan sepak terjang Gus Dur memang kemudian membuat wajah Islam menjadi berwarna. Anak-anak muda NU seolah mendapat gairah baru. Gerakan Pemuda Anshor, organisasi kepemudaan di bawah NU, dalam beberapa kesempatan mengambil posisi aktif dalam menjaga pluralisme. Adalah Riyanto, anggota Barisan Anshor Serbaguna Kota Mojokerto, menjadi bukti. Riyanto menjadi "martir" tewas akibat ledakan bom pada Misa Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto, 24 Desember 2000. Pilihan Riyanto menjadi martir adalah kesaksian atas sikap pluralisme pemimpinnya yang bernama Abudurrahman Addakhil.

Di hari saat ia meninggalkan istana, saat keluar mengunakan mercy tua, ia menyambangi para pendukungnya yang menantinya di Monumen Nasional (Monas). "Selamat Datang Presiden Rakyat." Spanduk besar terpampang menyambutnya. Para pendukungnya berencana, dari Monas akan beramai-ramai mengiringi kepulangan Gus Dur ke kediamannya di Ciganjur. Iring-ringan pun mulai bergerak. Namun, entah bagaimana, akhirnya kendaraan yang membawa Gus Dur berbelok dan melesat memisahkan diri. Gus Dur memang jagonya zig-zag. 

Gus Dur memang ringan. Saat ia dipaksa mundur dari jabatan orang nomor satu di republik ini, Gus Dur biasa-biasa saja. Ada sedikit perlawanan. Saat desakan untuk mundur itu hampir membuat pendukung dan penentangnya berhadap-hadapan, dari beranda istana, ia menyapa pendukungnya sembari berkaos oblong dan bercelana pendek. Addakhil menaklukkan kekuasaan dengan cara yang ringan.

Greg Barton, dalam biogorafi tentang tokoh ini menulis, "Saya berkeyakinan bahwa kecenderungan yang diperlihatkan Gus Dur dalam pernyataan-pernyataannya yang memandang enteng masalah yang dihadapinya itulah yang mengambarkan mekanisme ekstrovert dari kebiasaan untuk menyemangati dirinya ketika menghadapi tantangan yang benar-benar mengancam."

Begitulah Gus Dur. Dan, setelah Gus Dur, semoga kita tak membuat semua jadi repot. Selamat Natal bagi yang merayakan. Al-Fatihah untukmu Gus.


#Merdeka
#Gus Dur
#Abdurrahman Wahid
#Abdurraham Addakhil
#Hari Natal
500
komentar (0)