logo rilis

Sepatu Bung Hatta
kontributor kontributor
Wawan Mattaliu
20 Februari 2017, 03:35 WIB
Pegiat seni dan budaya, bekerja sebagai Anggota DPRD Sulawesi Selatan.
Sepatu Bung Hatta

Sesederhana apapun seseorang, sesekali ia akan tergoda juga oleh sesuatu. Tergoda adalah peristiwa yang manusiawi dan kita adalah buah dari ketergodaan itu sendiri, sebagaimana Adam dan buah khuldi. Batas keinginan dan kebutuhan menjadi blur dan nampak sama saja. Maka sangat jarang orang bisa merasionalisasi ketergodaannya.

Dan pula begitu lelaki mungil berambut rapi itu. Dia membaca koran hampir setiap hari. Tapi sangat jarang ada iklan yang menyita perhatiannya. Tapi sekali ini yang dia lakukan bahkan lebih jauh. Potongan iklan itu diguntingnya dengan hati-hati, lalu menyelipkannya di sela halaman buku.

Baca Juga

Sekali lagi, tergoda bukanlah sesuatu yang sebenar-benarnya keliru. Apalagi hanya sepatu, dan yang tergiur itu adalah Bung Hatta. Tokoh yang pernyataannya menggetarkan pengadilan Den Haag.

"Kita lebih suka melihat Indonesia tenggelam dalam dasar laut daripada terus-menerus jadi embel-embel suatu bangsa yang lain," ujarnya sekali waktu dengan suara yang tenang dan datar.

Sang begawan ekonomi itu berharap bisa punya kemewahan di luar tumpukan buku-bukunya. Sepasang sepatu yang bersejarah panjang dari Swiss. Yang tak hanya menawarkan kenikmatan bagi pemakainya, tapi juga sebuah jaminan masa pakai yang panjang. Desain Carl Frans Bally memang tak sekedar alas kaki. Tapi jemari para seniman turut mengadikaryakannya sebagai identitas.

Tapi ketergodaan Bung Hatta tak kemudian menyebabkannya irasional. Dia menabung. Menyisihkan sebahagian gajinya sebagai wakil presiden sambil sesekali mengintip ulang iklan sepatu itu. Dia tentu membayangkan sekali waktu memakainya sambil berdiri di samping Bung Karno. Atau sekali waktu ketika berbagi tawa dengan Nehru.

Tapi sejarah dan buku tak membiarkannya lama sebagai wakil presiden. Di depan media di ujung tahun 50an, Hatta menyampaikan bahwa tugas Dwitunggal telah selesai begitu kabinet parlementer telah selesai. Hatta meyakini bahwa tugasnya memerdekakan bangsa ini dan menyiapkan perjalanannya telah usai. Dan 20 Juli 1956, sang pelopor koperasi itu mengirim surat kepada ketua DPR, Sartono.

Isinya singkat. Jelas dan padat.

Merdeka, Bersama ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, setelah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi.

Tapi DPR menolak dengan halus. Dan 1 Desember 1956, Bung Hatta mengirim kembali surat dengan isi yang sama. DPR akhirnya setuju. Bung Hatta menjadi wakil Bung Karno 11 tahun. Hamengkubuwono akhirnya menggantikannya sebagai wapres setelah jabatan itu kosong selama 17 tahun.

Usai wapres. Bung Hatta kembali sibuk bersama buku-bukunya di Jalan Diponegoro 57 Jakarta. Dia menulis artikel di berbagai media. Honornya untuk menghidupi Rahmi dan tiga putrinya; Meutia, Gemala dan Halida.

Iklan sepatu Bally itu masih saja terselip di tengah sebuah buku. Tak berubah. Tapi tak kunjung juga menjadi kenyataan. Alih-alih berharap untuk mendapatkan sepatu itu, Bung Hatta malah direpotkan oleh ketaksanggupan untuk membayar PAM dan PBB rumahnya. Dan itu menyebabkan Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta menangis. Dia berinisiatif melobby DPRD jakarta untuk menjadikan Bung Hatta sebagai warga kota utama supaya dibebaskan dari beban iuran PAM dan PBB.

Hatta tak meninggalkan Soekarno. Dia mengambil tempat yang diyakininya sendiri. Mengeritik pemerintahan Soekarno. Mendebat kebijakannya dengan bernas. Tapi berulangkali menyampaikan; baik buruknya Bung Karno, beliau adalah presiden saya!

Mereka bertemu terakhir, sehari sebelum Bung Karno wafat di Wisma Yaso. Pertemuan yang tak banyak kata. Pertemuan yang berisi tetes airmata.

Dua pendiri bangsa itu luruh dalam sedih. Tapi juga menegaskan kesatuan yang tak terpisah.

Dan 14 Maret 1980. Orang-orang memenuhi jalan menuju Tanah Kusir. Lelaki mungil nan perbawa itu pergi juga akhirnya. Tapi ia pergi setelah menjelaskan kepada siapa saja, bagaimana cara mencintai negeri ini dengan bersahaja.

Mungkin itu yang membuat lagu iwan fals selalu saja menggetarkan;

Tuhan terlalu cepat semua

Kau panggil satu-satunya

yang tersisa

proklamator tercinta

Jujur lugu dan bijaksana

Mengerti apa yang terlintas

dalam jiwa

rakyat Indonesia

Hujan air mata

dari pelosok negeri

saat melepas engkau pergi

Berjuta kepala tertunduk haru

terlintas nama seorang sahabat

yang tak lepas dari namamu

Terbayang baktimu

Terbayang jasamu

Terbayang jelas jiwa

sederhanamu

Bernisan bangga, berkafan do'a

dari kami yang merindukan orang

sepertimu


#Kolom
#Beranda
#Wawan Mattaliu
#Bung Hatta
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID