logo rilis
Sensor Near Infra Red, Solusi Tanah Indonesia
Kontributor
Elvi R
11 April 2018, 10:26 WIB
Sensor Near Infra Red, Solusi Tanah Indonesia
Sensor Near Infra Red. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia tengah mengembangkan sensor portabel untuk mendapatkan rekomendasi pemupukan bersama University of Sydney, Australia. 

"Sensor tersebut dapat mendeteksi jumlah hara di tanah sehingga rekomendasi pupuk dapat diberikan," kata Kepala Balitbang, Kementan, Dr A. M. Syakir. 

Menurut Syakir, pemupukan merupakan faktor produksi penting dalam pembangunan pertanian. Di sisi lain perkembangan teknologi informasi yang cepat harus dimanfaatkan untuk membuat alat deteksi hara yang tepat sehingga dapat memberikan rekomendasi pemupukan. 

Balitbang Kementan menyiapkan model rekomendasi pemupukan yang sesuai dengan tanah Indonesia, sementara Australia menyediakan sensor. "Dua keahlian dikombinasikan di sini," kata Syakir pada Workshop on Proximal Soil Sensing for Fertilizers Recommendation, tadi siang di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Bogor. 

Workshop tersebut bertujuan menghasilkan sebuah prototype soil tester menggunakan sensor proximal. "Saat ini kita fokus ke komoditas padi, jagung, dan kedelai," kata Kepala BBSDLP, Prof Dedi Nursyamsi. 

Menurut pakar sensor dari Sydney University, Dr Edward Jones, sensor tanah proximal memiliki akurasi sebanding dengan hasil analisis laboratorium. Alat dihubungkan dengan aplikasi rekomendasi pemupukan sehingga dapat memberikan rekomendasi pemupukan secara cepat, tepat, dan murah. 

Perangkat uji tanah cepat memang dibutuhkan saat ini dan menjadi tantangan Badan Litbang Pertanian untuk mewujudkannya. Analisis tanah di laboratorium membutuhkan biaya mahal, waktu antri lama dan menggunakan bahan kimia berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. "Uji tanah dengan sensor proximal merupakan terobosan teknologi yang dapat menghemat biaya dan waktu serta aman bagi pemakainya," kata Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr Husnain. 

Sensor tersebut menggunakan gelombang elektromagnetik Visible Near Infra-Red Spectroscopy (VisNIR) pada panjang gelombang 500-2.500 nanometer. Gelombang tersebut berkorelasi baik dengan parameter sifat tanah seperti pH, KTK, C-organik, total N, P dan K serta tekstur tanah.

"Teknologi ini dapat menganalisis tanah langsung di lapangan ataupun di laboratorium," kata Jones. 

Menurut Jones, secara prinsip sifat kimia tanah tidak mudah dideteksi sebagaimana sifat kimia air. Analisis sifat kimia air dapat dilakukan dengan pendekatan sifat elektrolit, sedangkan sifat kimia tanah memiliki banyak faktor yang mengganggu. Analisis tanah yang penting juga berupa kandungan hara tersedia yang merupakan representasi hara yang dapat diserap tanaman.    

Hingga saat ini belum ada alat yang mampu mendeteksi unsur hara dalam tanah sebagaimana hara yang diserap tanaman. "Sensor cerdas ini solusi cepat tepat dan murah," kata Jones. Alat itu juga mempercepat updating data peta tanah dan berbagai kebutuhan informasi terkait tanah dan lahan. 

Menurut Dedi, sensor tanah proximal segera release pada Juni tahun ini. "Saat ini sedang dikalibrasi dengan menggunakan berbagai jenis tanah Indonesia," kata Dedi.

Sumber: (Dedi Nursyamsi/Destika Cahyana/Balitbangtan)


500
komentar (0)