logo rilis
Selamat Tahun Baru, Bahagia Selalu
kontributor kontributor
Dadang Rhs
02 Januari 2018, 12:41 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Selamat Tahun Baru, Bahagia Selalu

JANUARI 2018. Usai sudah keriaan tahun baru. Ritual perayaan pergantian tahun telah berlalu. Tiap-tiap kita tentu berharap sesuatu yang baik atas datangnya tahun 2018 ini. Kebaikan atas semua.

2018. Ada yang menyebutnya tahun politik. Ada banyak peristiwa politik yang akan kita jelang tahun ini. Sebut saja pemilihan kepala daerah di pelbagai provinsi dan kabupaten kota. Perhelatan pilkada ini sesungguhnya adalah ritual yang selalu kita lalui, sebagaimana kita selalu melewati pergantian tahun. Dan, atas pergantian kita tentu menitipkan harapan.

Baca Juga

Pada aras demokrasi, pilkada adalah ajang kontestasi memilih pemimpin yang disandarkan pada kehendak publik. Bahwa, warga diberi kuasa untuk secara bersama menentukan kepala daerah. Memilih siapa yang akan dipinjami kekuasaan selama 5 tahun berikutnya. Sebuah amanat yang tidak tak terbatas. Pilkada merupakan kontestasi adu tangkas. Bukan tempat adu culas bagi mereka yang cemas kehilangan kuasa.

Pilkada juga merupakan kritik. Karena dalam demokrasi, kritik adalah sesuatu yang melekat. Bahwa, seorang kepala daerah yang amanat, berpeluang untuk kembali terpilih. Pun itu tak boleh lebih dari dua periode. Sedang kepala daerah yang lancung akan dihukum dengan tak lagi dipercaya untuk memimpin kembali.

Dalam ruang demokrasi, perhelatan politik semacam pilkada semestinya bukan sesuatu yang luar biasa. Pilkada adalah cara agar pergantian kekuasaan tak dibayang-bayangi kekerasan dan tindak kriminal. Sebuah pergantian yang wajar. Tak perlu ada darah yang tumpah, sebagaimana kisah-kisah berdarah dalam pergantian kekuasaan. Tak perlu terulang kisah balas dendam yang berdarah, seperti riwayat Ken Arok versus Anusapati dan keturunan.

Seharusnya, pilkada adalah cara beradab. Bukan cara biadab. Bukan cara yang licik dan penuh intrik. Bukan melulu urusan kelompok pemasang dadu. Bukan hanya milik segelintir orang yang merasa berhak untuk menjadikan kepentingan umum sebagai ladang pembibitan kepentingan mereka. Bukan ajang atas keserakahan yang berjubah demokrasi. Jika tidak, pilkada sesungguhnya hanya nama lain dari keserakahan. Ia akan tak jauh beda dengan tipu daya semata. Ia bisa jadi adalah pengulangan atas kisah tragis keris empu Gandring.

"Untuk itu saya titip, ya katakan sekali lagi, negara ini adalah negara besar, jangan sampai kita mengorbankan persatuan dan persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa, hanya untuk urusan Pilkada." Demikian imbauan sekaligus harapan Presiden Joko Widodo, ketika membuka kegiatan Natal Oikumene Nasional 28 Desember 2017 di Pontianak.

Pernyataan Presiden Joko Widodo bukan sekadar celetukan. Presiden, selaku kepala negara, tentu memiliki alasan untuk terus mengingatkan kebersamaan kita. Bisa jadi, Presiden mempunyai informasi penting terkait Pilkada yang segera kita jelang. Mungkin saja ada yang genting sehingga Presiden merasa perlu kembali mengingat persatuan dan persaudaraan warga republik ini. Tentu saja kita berharap Pilkada 2018 ini tak menyebabkan tahun ini menjadi vivere pericoloso. Menyerempet-nyerempet bahaya.

Alhasil, apapun pilihan politik tiap-tiap kita, semoga merawat demokrasi yang kita sepakati sebagai jalan bersama tetap menjadi kehendak kolektif kita sebagai sebuah bangsa. Hakikat demokrasi adalah merawat persaudaraan. Memperkuat demokrasi juga berarti memberi tempat bagi perbedaan sekaligus kebebasan.

Demikianlah, pilkada merupakan cara demokratis dalam pergantian kekuasaan. Pilkada idealnya merupakan prosesi yang wajar. Sebagaimana pergantian tahun yang selalu kita lalui. Kecuali ia menjadi palsu. Selamat tahun baru. Bahagia selalu.


#Pilkada 2018
#Pilkada Serentak 2018
#Demokrasi
#Merdeka
#Dadang Rhs
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)