Home » Inspirasi » Sosok

Selamat Jalan AM Fatwa: Terbayang Jelas Jiwa Sederhanamu...

print this page Jumat, 15/12/2017 | 01:09

FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

HUJAN air mata dari pelosok negeri, saat melepas engkau pergi

Berjuta kepala tertunduk haru, terbayang baktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas... jiwa sederhanamu

Bernisan bangga, berkapal doa, dari kami yang merindukan orang sepertimu

Lagu Iwan Fals mendayu sepanjang hari ini di ruang redaksi rilis.id. 

Informasi itu datang melalui WhatsApp dari putri kedua AM Fatwa, Dian Islamiaty Fatwa, sekira pukul 06.25 WIB.

"Telah meninggal dunia ayahanda AM Fatwa pukul 06.25 AM, di Rumah Sakit MMC. Mohon dibukakan pintu maaf dan mudah-mudahan Ayah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.”

***

Nama lengkapnya Andi Mappetahang Fatwa. Tokoh pergerakan nasional tiga zaman, Orde Lama, Orde Baru dan era Reformasi yang karib disapa AM Fatwa itu, lahir di Bone, 12 Februari 1939.

Sikap kritisnya terhadap rezim otoriter Orde Lama dan Orde Baru, membuatnya keluar-masuk penjara. Bahkan, ia sempat mengalami gegar otak akibat tindak kekerasan aparat.  

Dian, sang putri, berbagi cerita kepada pewarta mengenang berbagai teror dan penyiksaan yang dialami ayahnya.

"Waktu saya SMA, Ayah sedang menyetir mobil. Tiba-tiba saya dapat berita harus ke rumah sakit. Ternyata ada intel yang berupaya menceluritnya. Jadi kalau dilihat mukanya, sebetulnya ada bekas celurit," Dian terisak, tak kuasa menahan air mata.

"Air ledeng juga diracun, sehingga kami tidak bisa minum air ledeng selama beberapa bulan," tuturnya pilu.

Peristiwa Tanjung Priok, 12 September 1984, kembali mengantar AM Fatwa ke penjara dengan vonis 18 tahun, dari tuntutan seumur hidup.

Beragam teror dan penyiksaan yang menderanya, sekali waktu, disikapi AM Fatwa dengan menuntut Pangkopkamtib ke Pengadilan. Tapi, perubahan sistem politik melalui gerakan reformasi yang turut dipeloporinya, membuatnya memilih jalan kemanusiaan ketimbang jalan hukum.

Tuntutan ia cabut. Tokoh-tokoh yang bertanggung jawab atas penyiksaan dan pemenjaraannya, ia maafkan setelah satu-satu ia temui untuk membina hubungan kekeluargaan. 

Sejak muda, AM Fatwa telah aktif di berbagai organisasi, seperti PII, GPII, HMI dan Muhammadiyah. Ia juga aktif di front-front pergerakan, seperti Front Pemuda, Badan Kerjasama Pemuda Militer, Front Nasional, Front Nasional Pembebasan Irian Barat, serta Front Anti Komunis.

Salah satu deklarator Partai Amanat Nasional ini, terpilih menjadi Anggota DPR RI pada Pemilu 1999, dan didapuk menjadi Wakil Ketua DPR RI. Pemilu 2004, kembali mengantarnya ke Senayan, untuk kedua kalinya, dan menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.

Pada Pemilu 2009, serta Pemilu 2014, AM Fatwa maju sebagai calon perorangan dan terpilih sebagai Senator dari DKI Jakarta.

Penerima sejumlah penghargaan ini, di antaranya, award Pejuang Anti Kezaliman dari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Jakarta, telah mengukir segudang prestasi, serta teladan yang tak bertepi.

Kamis 14 Desember 2017, pada usia 78 tahun, AM Fatwa pergi untuk selamanya, setelah mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit MMC Jakarta.

Selamat jalan Ayahanda; Terbayang baktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas... jiwa sederhanamu.

Penulis Ning Triasih

Tags:

AM Fatwa