logo rilis
Sekam dari Limbah Padi, Mampu Jadi Bahan Bakar Alternatif
Kontributor
Intan Nirmala Sari
10 April 2018, 09:24 WIB
Sekam dari Limbah Padi, Mampu Jadi Bahan Bakar Alternatif
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Pemanfaatan sekam sebagai bahan baku briket dilatarbelakangi oleh tingginya limbah hasil panen padi. Berbagai varietas padi menghasilkan limbah sekam yang berbeda-beda, misalnya varietas padi per 100 kilogram gabah kering panen (GKP) menghasilkan limbah sekam yaitu; untuk ciherang 16 kilogram sekam, inpago 5 sekamnya 16,7 kilogram, IR 64 limbahnya 17 kilogram, sedangkan varietas mentik, menghasilkan limbah sekam yang lebih tinggi yaitu 23,3 kilogram. Demikian hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh  KP Bandongan Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Jawa Tengah (Jateng).

Sebagai lembaga penelitian, Balitbangtan terus menghasilkan inovasi yang tiada henti, limbah sekam padi diolah untuk berbagai produk turunan. Salah satunya adalah briket arang sekam. Hasil pengamatan di KP Bandongan, Jateng menunjukkan, dari 100 kilogram sekam/padi hampa, diperoleh rata-rata 63,93 kilogram arang sekam.

Dalam proses pembuatan briket, arang sekam dihaluskan terlebih dahulu dengan alat penepung. Campuran yang paling tepat dan menghasilkan briket terbaik adalah untuk setiap 1 kilogram tepung arang sekam, dibutuhkan tepung tapioka sekitar 400 gram dan 1,5 liter air. Dengan campuran tersebut, dari satu kilogram arang sekam, dapat dihasilkan 553+14,06 gram briket. 

Briket dapat dicetak berbentuk kotak persegi atau bulat panjang sesuai dengan alat pencetaknya. Briket yang telah dicetak, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering, briket dapat dikemas dalam plastik untuk digunakan pada masa yang akan datang. Semakin halus arang sekam, briket yang dihasilkan akan menjadi semakin padat dan kompak, maka semakin lama pula daya bakar briketnya.

Di KP Bandongan telah dilakukan pengujian kualitas briket arang sekam dari efisiensi panas briket yang dihasilkan, dibandingkan dengan briket batu bara, tempurung kelapa, dan arang kayu. Hasilnya, briket arang sekam lebih mudah terbakar dibandingkan briket lainnya.

Namun, kondisi tersebut kurang menguntungkan karena briket cepat terbakar habis menjadi abu dalam waktu yang relatif cepat. Selain itu, briket arang sekam membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan briket lainnya. Briket batu bara memiliki efisiensi panas yang paling baik.

Hasil pengujian tersebut, tidak mengecilkan potensi arang sekam, namun menjadi alternatif bahan bakar pilihan karena limbah sekam yang dihasilkan luar biasa banyaknya. Sementara itu, BPTP terus mendiseminasikan hasil ini, sebagai bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi biaya pengeluaran masyarakat.

Sumber: Nanik AP/Humas Balitbangtan


komentar (0)