logo rilis
Sejarah Konde: Kaitannya dengan Status Sosial
Kontributor
Ning Triasih
04 April 2018, 12:57 WIB
Sejarah Konde: Kaitannya dengan Status Sosial
FOTO: Instagram/@boimlauw_

RILIS.ID, Jakarta— Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu

Itulah beberapa penggal bait puisi Ibu Indonesia karya Sukmawati Soekarnoputri yang menuai perdebatan. Sejumlah kalangan mengkritik, isi puisi itu kurang pas karena membandingkan budaya dengan agama.

Ya, berbicara soal konde alias sanggul, itu merupakan salah satu atribut yang umumnya digunakan kaum hawa untuk menunjang penampilan. Konde umumnya dipakai saat acara-acara adat ataupun pesta.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konde adalah gelung rambut perempuan di atas atau di belakang kepala.

Menurut sejarah, istilah sanggul berasal dari kata "perisanggul", yakni rambut buatan yang digunakan sebagai penutup sekaligus penghias kepala.

Sejak dulu, sanggul juga dipakai saat keperluan seremonial, sebagai identitas profesi, keperluan panggung, penyamaran diri dan meningkatkan penampilan. Sanggul juga berfungsi sebagai pelindung dari sengatan matahari, juga lambang status sosial.

Sanggul atau konde sendiri telah dikenal sejak zaman Mesir kuno. Kala itu, wanita Mesir kuno punya kebiasaan mencukur bersih rambutnya demi keperluan keagamaan, panasnya udara dan pertimbangan kebersihan.

Namun, orang Mesir kuno khususnya kalangan bangsawan punya estetika tinggi. Karena itu, mereka memilih memakai rambut palsu berupa sanggul atau perisanggul. Bentuk sanggul tersebut dengan panjang rambut di bawah bahu. Dengan itu, kebutuhan kesehatan, identitas status sosial dan tampilan sempurna terpenuhi sekaligus.

Menurut beberapa sumber, di zaman itu, sanggul dilarang dipakai oleh para budak dan pemuka agama. Hanya kaum bangsawan yang boleh menggunakannya. Status sosial begitu kentara kala itu.

Namun, seiring berjalannya waktu, sanggul kemudian tak hanya dipakai oleh orang Mesir kuno. Kini sanggul bahkan telah mendunia dan bisa digunakan siapa saja dari berbagai kalangan.

 


500
komentar (0)