logo rilis
Sebut Puan dan Pramono, Pengacara Nilai Novanto Layak Jadi JC
Kontributor
Tari Oktaviani
23 Maret 2018, 09:30 WIB
Sebut Puan dan Pramono, Pengacara Nilai Novanto Layak Jadi JC
Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Kuasa Hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail menilai, kliennya sudah cukup terbuka dan kooperatif dalam mengungkap kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP). Terbukti dengan adanya nama baru yang
masuk dalam kasus ini, yakni Puan Maharani dan Pramono Anung.

"Dia mendengar dari Oka, sejumlah orang yang terima uang dan dikonfirmasi oleh Irvan. Saya kira itu sesuatu yang maju di dalam perkembangan tentang siapa saja yang menerima uang itu. Saya kira itu yang mesti dilihat sebagai itikad
baik," kata Maqdir, Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Ia menyampaikan, mulanya Novanto ragu dalam menyebut dua nama yang kini duduk di kursi Pemerintahan itu. Namun lantaran diminta penyidik untuk berbicara apa adanya maka kliennya mengungkapnya dalam sidang.

Lebih jauh, Maqdir berkata, terkait benar atau tidaknya Puan dan Pramono Anung menerima uang e-KTP, menjadi keputusan hakim pada akhirnya untuk dimasukan ke pertimbangan atau tidak. Selain itu, Maqdir juga berharap agar Made Oka Masagung selaku pihak pemberi uang, mengakui perbuatannya.

"Soal benar atau tidak benar, saya kira ya kita serahkan nanti kepada wKtu. Sebab bagaimana pun juga ini kan keterangan dari Made Oka Masagung. Yang kita juga dengar dipersidangan Oka selalu mengatakan lupa," tuturnya.

Dengan demikian, Maqdir mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya pada KPK dan Majelis hakim terkait permohona Justice Collaborator (JC) Novanto. Ia masih meyakini permohonannya itu benar-benar dipertimbangkan mengingat Setya Novanto mau bersikap terbuka.

"Ya kita serahkan aja. Tapi paling tidak, buat saya sebagai seorang politisi, dan penyelenggara negara, dia sudah sampaikan dia sudah lakukan apa yang mungkin. Dan jangan lupa, menyebut nama orang itu risikonya besar sekali tanpa ada jaminan perlindungan dari penerima JC itu. Itu mesti dipertimbangkan," tuturnya.

Sebelumnya, terdakwa kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) Setya Novanto mengatakan, petinggi fraksi PDI Perjuangan kala itu juga ikut kecipratan duit hasil dugaan korupsi. Hal itu ia ketahui dari
keterangan pengusaha Made Oka Masagung.

"Waktu itu ada pertemuan di rumah saya yang dihadiri oleh Oka dan Irvanto, di sana saya berikan ke Puan Maharani US$500 ribu, Pramono Anung US$500 ribu," kata Novanto dalam sidang di pengadilan tindak pidana korupsi, Jakarta, Kamis (22/3) kemarin.

Mendengar itu, hakim pun memastikannya kembali kepada Novanto. Ketua majelis hakim Yanto menanyakan siapa yang memberikan uang kepada dua orang politisi PDIP itu.

"Itu keterangan anda?," tanya hakim Yanto.

"Itu keterangan beliau, keterangan Pak Oka," jawab Novanto.

Ia sendiri merasa heran sebab justru Oka saat menjadi saksi di persidangan malah mengaku lupa telah menampung uang e-KTP. Namun begitu, Novanto kembali mempertegas terkait rekaman percakapan yang diputar jaksa beberapa waktu lalu bukan terkait e-KTP.

Editor: Sukma Alam


500
komentar (0)