logo rilis
Sebut Data Prabowo dari Kandang Kuda, Ini Pembelaan Gerindra
Kontributor
Zul Sikumbang
25 Maret 2018, 21:17 WIB
Sebut Data Prabowo dari Kandang Kuda, Ini Pembelaan Gerindra
Ketua Umum Pengurus Pusat Satuan Relawan Indonesia Raya (PP Satria), M Nizar Zahro. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Pidato Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto soal Indonesia bubar 2030, disebut cuma bisa dipahami bagi yang "berakal". Sedangkan yang bebal, hanya mampu mengejek.

"Hanya orang-orang yang berakal saja, yang mampu menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh Pak Prabowo. Sementara orang bebal dan dungu, hanya bisa mengejek membabi buta," ujar Ketua Umum Pengurus Pusat Satuan Relawan Indonesia Raya (PP Satria), M Nizar Zahro, di Jakarta, Minggu (25/3/2018).

Pernyataan tersebut untuk menanggapi komentar Sekretaris Jenderal DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni. Menurut Nizar, Toni yang menganggap data Prabowo dari kandang kuda, merupakan sikap bebal dan dungu lantaran tak menyimak pidato yang disampaikan secara utuh.

"Karena jelas sekali Pak Prabowo mengatakan, bahwa pidatonya didasarkan atas novel Ghost Fleet karya PW Singer," terang politisi Partai Gerindra asal Madura itu.

Kata Nizar, seharusnya Toni "membuka mata", bila bangsa asing sudah "menelanjangi" Indonesia melalui novel tersebut. Dia pun mengingatkan, PW Singer merupakan ahli strategi dan kebijakan pertahanan Amerika Serikat (AS). Sehingga, diyakini memiliki data akurat dalam memprediksi perang terbuka antara AS versus Cina.

"Meskipun novel tersebut bergenre fiksi, tidak ada salahnya kita sebagai bangsa waspada. Jangan sampai prediksi PW Singer menjadi kenyataan," ucapnya.

Menurut Anggota Komisi V DPR RI ini, persaingan antara AS versus Cina bukan "isapan jempol". Dia mencontohkan dengan kejadian saat KTT Perubahan Iklim di Perancis, 2015.

Presiden AS Barack Obama sempat meninggalkan ruangan saat Joko Widodo akan berpidato. "Itu adalah bentuk tidak simpatik AS atas posisi Indonesia yang cenderung merapat ke Cina," ungkapnya.

Toni pun diminta tak menjadi orang dungu dalam melihat sesuatu. "Jangan seperti katak dalam tempurung, yang memberi pernyataan bagaikan orang dungu," pungkas Nizar.

Editor: Fatah H Sidik


500
komentar (0)