Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID

Screenshot, lalu Viralkan!

Sabtu, 4/11/2017 | 16:09

"ZAMAN now". Kita hidup di era informasi cepat saji. Digitalisasi informasi. Media sosial mengganti cara kita berkomunikasi. Kebenaran seakan getas dan mudah diretas. Selfie adalah kunci.

Kebenaran menjadi personal dan emosional. Jejaring persepsi berkait dalam relasi pemujaan. Aku berkicau maka aku ada. Dialog antarwarga menjadi instan. Fakta tak lagi dianggap suci. Ia direproduksi dalam selera dan persepsi personal, sesuatu yang disuarakan dengan nyaring dan berulang. Opini dibentuk seolah hanya dijadikan opium yang membius nalar publik. Dan, bukan lagi sebagai kritik atas isu-isu penting yang menjadi perhatian publik. Argumentasi hilang dalam kenyinyiran. Kesadaran publik disandarkan pada kesan atas pesan yang didengungkan. Berita tak lagi dibaca utuh. Screenshot, lalu viralkan!

Informasi dipenggal berdasarkan selera kelompok. Lalu dipercakapkan dan didengungkan dalam gerombolan para pemuja. Kebenaran terpojok. Seakan dusta bukan dosa. Biar salah, selama cocok: sebarkan.

Desakan untuk terus mengunyah informasi cepat saji membuat rahang nalar menjadi keropos. Gigi pikiran tak lagi rapi.  Penuh bolong dan dipenuhi  karang gigi—menyebarkan bau tak sedap. Sampah informasi yang ditelan merusak pencernaan. Menghasilkan sendawa yang mencemari percakapan publik.

Ruang publik yang pengap tentu bukan tempat yang sehat. Pandangan menjadi kabur. Percakapan akan kehilangan fokus dan tersengal-sengal. Menyesakkan dada dan membuat perut menjadi mual. Di dalam relasi semacam ini, kesalahpahaman dengan segera akan menyerimpung kewarasan pikiran. Perbedaan tak lagi menjadi energi penggerak bagi dialog antarwarga. Ia dengan mudah diubah dan dianggap sebagai sikap permusuhan. Kritik yang tumbuh dianggap gulma. Dijadikan sesuatu yang haram, dan tak boleh dibiarkan.

Akses publik terhadap informasi, sebagai prasyarat demokrasi, terkunci oleh hukum "adu cepat, tapi tidak tepat". Informasi cepat saji telah memotong akar keberadaan sebuah informasi:  dialektika antarwarga. Sebuah pertukaran pengetahuan. Bukan, lantas dibalik, sebagai ajang pemaksaan opini oleh segelintir orang.

Percakapan antarwarga, debat publik, juga kritik tak mungkin bertumbuh dalam lingkungan yang jorok. Ruang publik yang kumal hanya akan dipenuhi oleh gerombolan penyinyir. Para pendengung dan perundung bayaran, juga oleh demagog yang merasa dirinya guru bangsa.

Era informasi cepat saji seolah tak terelakkan. Sesuatu keniscayaan "zaman now". Bahwa kebenaran seakan kalah cepat dan tertimbun oleh derasnya tsunami informasi di media sosial. Tak ada sela untuk menelisik kabar yang disebar. Hilang sudah kesempatan untuk sekadar melakukan konfirmasi. Apalagi, dengan saksama bertekun-tekun, untuk menguji dan melakukan verifikasi atas sebuah informasi. Seakan tak ada pilihan kecuali melahap dengan segera.

Gejala ini disebut Oxford Dictionary sebagai situasi "post-truth". Sebuah kondisi yang, “merujuk pada keadaan di mana fakta objektif kurang dapat berpengaruh pada pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal.”  Post-truth  di tahun  2016 dinobatkan oleh Oxford Dictionary sebagai word of the year.

Situasi ini tentu menempatkan percakapan antarwarga dalam tensi tinggi. Kadang bahkan kehilangan kendali. Seakan tengah berpegang pada ranting ranggas. Jika ini terus terjadi, personalisasi kebenaran yang dikibarkan akan mengorbankan opini yang emosional. Nalar dan rasionalitas akan tergilas.

Mungkinkah kebenaran akan terus meranggas, kering dan mudah terbakar, di "zaman now" ini? Atau, ini hanyalah musim pancaroba, yang segera akan berganti. Mari menghitung hari dan menjadi saksi.