logo rilis
SBY-Prabowo Diyakini Kalahkan Jokowi
Kontributor
Nailin In Saroh
27 Mei 2018, 16:01 WIB
SBY-Prabowo Diyakini Kalahkan Jokowi
Presiden Jokowi (tengah) sela peresmian Tol Ngawi-Kertosono seksi Ngawi-Wilangan di depan Gerbang Tol Madiun, Desa Bagi, Kecamatan Sawahan, Madiun, Jawa Timur, Kamis (29/3/2018). FOTO: RILIS.ID/Budi Prasetyo

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menilai Demokrat dan Gerindra harus memperkuat porosnya masing-masing sebelum memutuskan bergabung dalam kontestasi Pilpres 2019.

Sehingga partai yang diketuai Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto itu bisa melancarkan serangan melawan petahana, Joko Widodo. Salah satunya, membiarkan adanya poros ketiga lalu berkoalisi diputaran kedua.

"Kalau Poros SBY dan poros Prabowo baiknya bangun kekuatan masing masing dulu. Nanti dalam demokrasi lima puluh plus satu, ada yang nggak masuk ke putaran kedua, maka yang masuk bisa bergabung kembali antara koalisi Prabowo dan SBY bersatu melawan incumbent seperti skema DKI Jakarta," ujar Pangi kepada rilis.id di Jakarta, Minggu (27/5/2018).

Menurutnya, formasi tiga poros dengan skema dua putaran jelas tidak menguntungkan Jokowi. Bahkan, bisa mengancam dan membahayakan posisi incumbent.

"Namun kalau hanya head to head, yaitu bertumpu pada dua kutub yaitu Prabowo plus SBY melawan Jokowi, masih sulit menyalip dan menenggelamkan elektoral Jokowi," jelas Pangi.

Pangi menilai, kekuatan Prabowo-SBY melawan Jokowi masih tetap sulit karena berhadapan langsung dengan poros Jokowi. Kecuali jika Demokrat dan Gerindra masing-masing berjalan sendiri dulu. Baru kemudian, di putaran kedua kekuatan poros Prabowo dan SBY bergabung melawan Jokowi. 

"Itu bisa mengancam presiden Jokowi. Sama dengan Pilkada DKI Jakarta, awalnya hanya dianggap dua poros saja, namun di injured time, tanpa disangka sangka, cuaca politik mengalami perubahan ekstrim yaitu masuknya poros ketiga  AHY sehingga pertarungan kontestasi elektoral menjadi multipolar, tiga kutup kekuatan yang bertarung,"

"Kalau SBY buat poros sendiri, dan Prabowo buat poros sendiri, lalu terjadi skema seperti pilkada DKI, putaran kedua apakah Prabowo atau poros SBY masuk atau bergabung melawan poros incumbent. Dipastikan Jokowi keok pada putaran kedua," tandasnya.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)