logo rilis
Sang Waktu
kontributor kontributor
Ilham Mendrofa
31 Desember 2017, 17:14 WIB
Pedagang jagung, saat ini aktif membenih kata di rilis.id
Sang Waktu

Sang Waktu

SAYA menikmati momen itu, beberapa jam sebelum artikel ini ditulis. Berdiri di depan gedung Opera Sydney, di antara lalu lalang pengunjung yang klimis, saya diapit dua laki-laki. Atau, lebih tepatnya ingin diperlakukan sebagai laki-laki. Saya tidak tahu kapan aspirasi itu mulai datang, sore tadi ibunya masih menasihati agar menjadi ABG yang tak nakal. Tapi malam itu, dari cara berjalan dan menampakkan diri, Rayang dan Nezar seakan ingin diakui sebagai anak dewasa. Lamat-lamat, saya seperti mendengar suara serak Louis Amstrong, "I watch them grow, they'll learn much more than I'll never know."

Tentu ini cerita personal yang hanya bisa dinikmati personal. Tapi saya tahu, banyak orang tua yang bisa berempati dengan keharuan ini, yaitu momen sederhana tapi menakjubkan ketika tiba-tiba anak terasa sudah dewasa. Waktu menjadi seperti undakan, saat anak lahir, tumbuh, hingga ketika kita sadar, bahwa telah ada sebuah generasi sesudah kita, yang tak sepenuhnya bisa kita kuasai.

Baca Juga

Waktu, barang imajiner yang sebenarnya tak pernah ada itu, oleh kecerdasan manusia seakan menjadi benda yang bisa direngkuh. Ia seperti sesuatu yang kita taruh di atas talenan kayu, kemudian pisau dapur mencacahnya menjadi potongan-potongan. Dan tiap-tiap potongan kita beri konsep: milenium, abad, dekade. Bahkan hingga potongan terkecil yang kita sebut jam, menit, detik. Tapi, justru karena itu saya jadi sadar, bahwa kehidupan yang saya jalani ini, sesungguhnya adalah sebuah potongan antara satu generasi dengan yang lain. Dengan kata lain, apa yang saya lihat selama ini, sebenarnya adalah bagian yang tidak utuh. Mungkin itulah muasal perlunya sikap rendah hati.

Saya kerap termenung tiap kali menatap jam-jam yang lumer dalam lukisan Salvador Dali. Saya juga sering mendapati imitasi citraan itu dalam banyak variasi. Saya tak tahu apa yang ingin disampaikan pelukis Spanyol itu, tapi memang ada suasana yang lain, seperti ada yang pasrah pada yang fana.

Sikap rendah hati dan pengakuan pada yang fana, membuat manusia tak berhenti berikhtiar ribuan tahun lamanya. Juga dalam agama, ketika Tuhan mewahyukan surah Al-Asr bahwa jalan hidup manusia adalah untuk berbuat baik, saling menasihati untuk kesabaran. Jika tidak, hanya ada kerugian.

Arloji digital di pergelangan tangan saya ini, yang fungsinya bahkan tak sekadar pengukur waktu, pada mulanya adalah pokok ranting yang ditancap di tanah untuk menangkap arah matahari, berabad yang lalu oleh orang-orang Mesir kuno. Di tempat dan waktu yang lain, dan mungkin tak saling mengenal, orang menciptakan penanggalan dan berbagai instrumen hingga waktu seakan bisa disentuh, bisa direngkuh. Awalnya ranting, kemudian air, lalu pasir, lalu logam, lalu bilangan biner yang membentuk perintah digital. Dari Mesir Kuno hingga Silicon Valley, saya jadi sadar betapa dahsyatnya ikhtiar manusia, betapa dahsyatnya pengakuan pada yang fana. 

Dengan kesadaran akan "potongan-potongan" itu, saya tidak tahu bagaimana caranya menempatkan konsep tentang ras, agama, atau superioritas komunal yang mengaku bahwa kamilah yang paling tercerahkan, kamilah yang paling unggul. Sementara, kita tahu bahwa tiap potongan sejarah tidak ada yang pernah murni, di sana ada ikhtiar yang keras dan perih, juga hidup berkubang najis.

Di manakah saya bisa meletakkan kebenaran, sementara saya tahu tiap-tiap generasi membuat kebenaran saling bertaut, mengikis, juga mengembang. Ada satu masa di mana manusia melihat langit dan bumi seakan setara berhadapan. Ada suatu masa kita mengenal Friedmann, Einstein, Hawkins, yang membantu kita menyisir tabir gelap jagat raya. Mungkin nanti ada masa sebuah generasi yang "they'll learn much more", yang menentukan capaian sains saat ini menjadi basi atau berlanjut.

Saya jadi teringat beberapa pakar neurosains yang menertawakan psikoanalisis, yang dianggap imajinasi jadul para filsuf. Di saat mereka merasa bisa menjelaskan kompleksitas manusia dari sirkuit-sirkuit neuron yang renik. Tapi adakah "yang benar" dan "yang sia-sia"?

Sementara kita tahu, dari pikiran kuno Plato dan Aristoteles yang sekarang tak banyak bisa dipakai itu, menjadi pijakan pemikiran manusia modern.

Bahkan, kini ketika membaca kosmologi, saya menyadari betapa yang fana itu kian nyata. Baru-baru ini saya melihat sebuah foto yang dirilis NASA. Foto angkasa yang gelap, di sana ada titik yang nyaris tak terlihat. Titik itulah yang bernama bumi yang dijepret robot Curiosity dari daratan Mars. Hanya sebuah titik seperti bintang jauh yang kita lihat malam hari.

Sempat saya merasa geli sebenarnya, di jagat yang gelap dan hening itu, ada sebuah titik bernama bumi, yang jika mendekat kita akan tahu betapa berisiknya dia. Di sana orang bertikai, bahkan bertumpah darah untuk merasa yang paling tahu dan paling benar.

Mungkin nanti ada suatu masa, Rayang dan Nezar juga merasa geli ketika melihat saya, sebagai generasi orang tua yang sok tahu dan menyebalkan.


#Waktu
#Tahun Baru
#Ilham Mendrofa
#Kolom
komentar (0)