logo rilis
Sambut Hardiknas 2018, Ini Pesan PGRI
Kontributor
Elvi R
30 April 2018, 17:59 WIB
Sambut Hardiknas 2018, Ini Pesan PGRI
Ketum PGRI Unifah Rasyidi. FOTO: RILIS.ID/Elvi R

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan, sejumlah catatan perlu disampaikan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018. Menurutnya, keberadaan cetak biru pendidikan sangat diperlukan, kendati demikian belum terlihat hingga saat ini.

"Meskipun Rencana Strategis (Renstra) sudah tersedia, tapi hingga saat ini belum jelas, bahkan belum merespon kebutuhan revolusi industri 4.0. Tidak heran pendidikan karakter juga jalan di tempat karena  bentuk, model, dan strateginya belum jelas," ujar Unifah di gedung Guru Indonesia, Jakarta, Senin (30/4/2018).

Menurutnya, pendidikan bermutu adalah kunci bagi kemajuan bangsa. Berbagai persoalan yang mendera bangsa ini bila ditelusuri lebih jauh salah satu sebab utamanya  karena foundasi pendidikan, kebijakan, dan pelaksanaan pendidikan masih jauh dari harapan. 

"Memasuki 100 tahun Indonesia merdeka, Indonesia menghadapi persoalan besar terkait dengan kesiapan sumber daya manusia, riset dan teknologi kalah dengan bangsa-bangsa lain, mutu pendidikan yang masih rendah,  guru yang tidak berdaya baik dari kualitas, kesejahteraan, kekurangan guru, dan perlindungan. Darurat pendidikan menjadi bahasan penting memasuki era disrupsi," ungkapnya.

Unifah menjelaskan, saat ini Indonesia perlu cetak biru untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. "Indonesia perlu platform untuk terbukanya ide-ide  baru, kreatif, memiliki ketrampilan hard and soft skill, visioner sesuai dengan tuntutan revolusi industri 4.0," ungkapnya.

Adanya dua kurikulum yang dilaksanakan oleh sekolah yakni 2006 dan 2013 memiliki pendekatan substansi yang berbeda. Oleh karenanya, penerapan higher order thinking skills (HOTS) dalam Ujian Nasional menimbulkan gejolak di berbagai wilayah di Indonesia.

"HOTS itu bukan soal sulit tapi soal yang  menuntut penalaran dan logika berpikir tingkat tinggi, bersifat abstraksi. Proses pendidikan belum ke arah sana sehinga tidak heran menimbulkan reaksi ketika UNBK," kata Unifah.


500
komentar (0)