logo rilis
Salah Pilih Cawapres, Ini Dampaknya bagi Jokowi
Kontributor
Fatah H Sidik
26 Maret 2018, 16:31 WIB
Salah Pilih Cawapres, Ini Dampaknya bagi Jokowi
Presiden Joko Widodo. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, menyatakan, Presiden Joko Widodo harus berhati-hati dalam memilih calon Wakil Presiden (cawapres). Jika tidak, bakal kalah dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

"Kalau sampai salah pilih cawapres, dia bisa kalah dan tergusur," ujarnya saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Senin (26/3/2018).

Ujang berpendapat demikian, lantaran elektabilitas Jokowi berada di bawah 50 persen meski berstatus sebagai petahana. Padahal, didukung mayoritas partai peserta Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.

"Artinya, seorang incumbent di bawah 50 persen sebagai sesuatu yang rugi, walapun memang dibandingkan dengan capres yang lain jauh (elektabilitasnya)," jelasnya.

Baca: Elektabilitas Terus Merosot, 'Lampu Kuning' untuk Jokowi

Untuk itu, Ujang menyarankan, Jokowi memilih pendamping dengan dua pendekatan. Pertama, mampu mengatrol tingkat keterpilihannya.

"Karena Pak Jokowi berbeda dengan SBY. SBY elektabilitas 60 persen waktu itu (Pilpres 2009)," terangnya. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih Gubernur Bank Indonesia Boediono pada Pilpres 2019. Meski profesional berpengalaman, figur Boediono kala itu belum terlalu dikenal publik.

Baca: Elektabilitas Cawapres Jadi Kunci Jokowi

Kedua, Jokowi diusulkan memilih cawapres yang berpengalaman. Dia bisa mencontoh SBY pada Pilpres 2009. "Dulu Pak Soeharto punya Wapres adalah BJ Habibie atau Gus Dur punya Wapres Bu Megawati," imbuhnya.

"Suatu saat incumbent tidak menjabat lagi, dia (Wapres) bisa dipromosikan untuk capres berikutnya," pungkas akademisi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) ini.


500
komentar (0)