logo rilis
Saksi Akui Proyek e-KTP Diintervensi Anggota DPR Ini
Kontributor
Tari Oktaviani
05 April 2018, 14:56 WIB
Saksi Akui Proyek e-KTP Diintervensi Anggota DPR Ini
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Mantan Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Irman, mengatakan, proyek Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) diintervensi oleh Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. 

Ia menyebut yang pertama kali mengisyaratkan harus ada uang pelicin apabila mau proyek e-KTP berjalan mulus ialah mantan Ketua Komisi II Burhanudin Napitupulu.

Mulanya hakim menanyakan pengetahuan Irman terkait perannya untuk mengawal beberapa perusahaan guna memenangkan lelang proyek e-KTP. Irman mengakui kala itu memang dirinya mengawalnya namun Irman mengaku sebenarnya ia tidak mau.

"Sebenarnya, saya berusaha tidak ikut namun karena ada dalam perjalanannya ada berapa intervensi. Pertama dari komisi II DPR RI," kata Irman saat menjadi saksi untuk kasus dugaan korupsi e-KTP dengan terdakwa Anang Sugiana Sudiharjo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Saat itu, pihaknya melaporkan anggaran yang dibutuhkan untuk mengadakan proyek e-KTP. Lalu Burhanuddin selaku Ketua Komisi II memastikan akan mendukung itu bila ada perhatian. Adapun perhatian yang dimaksud ialah uang pelicinnya.

"Untuk dukung perlu perhatian. saya paham perhatian itu uang. Jadi, ternyata memang yang saya perkirakan, bahwa harus ada perhatian itu, masalah uang ternyata benar. Tapi harus sangat dipikirkan tapi dia setuju, dia menyuruh saya kerja keras saja," ungkapnya.

Bahkan Burhanudin menyodorkan nama pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong yang akan mengurus anggaran awal. Irman mengaku berat sebab sudah pasti harus memasukan Andi ke peserta lelang.

"Saya bingung juga, tapi karena tekanan komisi II yang akan menyediakan anggaran adalah Andi, ini beban berat juga bagi saya. Oleh karena itu, saya hanya bilang ke Pak Giarto (Sugiharto) asal secara teknis dia (Andi) punya kemampuan, dan finansial," paparnya.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)