logo rilis
Saksi Akui Novanto Tak Ditusuk Jarum Infus usai Kecelakaan
Kontributor
Tari Oktaviani
02 April 2018, 13:17 WIB
Saksi Akui Novanto Tak Ditusuk Jarum Infus usai Kecelakaan
Setya Novanto diperiksa KPK. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Supervisor keperawatan Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, Indri Astuti, mengungkapkan, dokter Bimanesh Sutarjo pernah menyuruhnya agar mantan Ketua DPR Setya Novanto, tidak dimasukkan jarum infus, melainkan hanya ditempel saja.

"Dokter Bima (Bimanesh) keluar, saya ikutin. Kami keluar dari kamar 323. Dokter Bima katakan pada saya, pasang infusnya ditempel saja," kata Indri saat bersaksi untuk Bimanesh selaku terdakwa merintangi penyidikan korupsi e-KTP, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (2/4/2018).

Mendengar permintaan Bimanesh, Indri pun mengaku kaget. Pasalnya, tak pernah ada dokter yang menyuruhnya melakukan rekayasa perawatan medis. Kendati begitu, ia tetap menjalani perintah itu.

"Iya (perintah dokter Bimanesh) ditempel, tidak ditusuk," tuturnya. 

Kemudian, lanjut Indri, saat dirinya akan memeriksa tensi darahnya, Bimanesh tiba-tiba masuk ke dalam kamar VIP 323 untuk mengambil alih pemeriksaan tensi.

"Waktu saya ambil tensi, dokter Bimanesh periksa sendiri, sambil berkata tensinya 180/110, tapi pasien (Novanto) tetap diam saja," ujarnya. 

Selain itu, Indri juga menyampaikan, sepengetahuannya tak ada luka serius yang diderita Novanto layaknya korban kecelakaan. Namun, memang setelah pemeriksaan yang kedua, timbul benjolan di dahinya tapi tidak sebesar bakpao.

"Setelah periksa baru timbul benjolan dua, ada dua benjolan, tapi benjolan sebesar kuku saya," kata dia. 

Dalam kasus ini, Bimanesh didakwa bersama Fredrich Yunadi merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Novanto. Dia dan Fredrich ditengarai telah mengondisikan RS Medika Permata Hijau sebelum Novanto mengalami kecelakaan mobil. 

Selain itu, Bimanesh dan Fredrich diduga memanipulasi data medis Novanto agar bisa dirawat, untuk menghindari pemeriksaan KPK pada pertengahan November 2017 lalu. Kala itu, Novanto bakal diperiksa sebagai tersangka korupsi proyek yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun.

Editor: Taufiqurrohman


500
komentar (0)