logo rilis

Said Aqil: Indonesia Merdeka Bukan karena Kaum Santri Semata
Kontributor

20 Juni 2018, 20:50 WIB
Said Aqil: Indonesia Merdeka Bukan karena Kaum Santri Semata
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Blitar— Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj mengungkapkan, kemerdekaan Indonesia karena dukungan yang baik antara kaum nasionalis dan santri, sehingga dirinya meminta agar masyarakat meniru jejak Bung Karno.

Ia menilai, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, telah mencintai negara dengan pikiran dan tindakan yang konsisten serta sepenuh hati, hingga Indonesia merdeka.

"Kita harus sadar, ingat tidak boleh lupa bahwa kemerdekaan yang kita miliki juga perjuangan Soekarno dan didukung para kiai," kata Said Aqil di sela-sela acara Haul ke-48 Soekarno, di makam Bung Karno, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Rabu (20/6/2018) sore.

Ia mengatakan, NU sudah mempunyai hubungan yang sangat dekat dan baik dengan pemerintah sejak dulu. Hal itu terbukti, saat peristiwa 10 November, di mana saat itu santri ikut terlibat langsung memperjuangkan kemerdekaan.

Begitu juga dengan peristiwa Piagam Jakarta, yang hendak dicoret. Saat itu, KH Wahid Hasyim pulang ke Jombang, meminta pertimbangan dari KH Hasyim Asyari, yang juga ayahandanya, dan setelah melalui shalat istikarah akhirnya Piagam Jakarta dicoret.

Ia menambahkan, persahabatan antara pendiri NU dan Bung Karno juga akrab. Karena itu, menurutnya, Indonesia tidak mungkin berdiri dengan kuat tanpa bersatunya ulama, santri, dan kalangan nasionalis.

"Hanya dengan bersatu, ulama, santri, dan negara ini bisa kuat, dan tidak mungkin ditangani sendiri. Kaum nasionalis saja tanpa santri tidak mungkin, dan sebaliknya santri tanpa kaum nasionalis juga tidak bisa, jadi semua bersatu," ujarnya.

KH Said juga menyatakan, dirinya ikut ziarah makam Bung Karno. Ziarah dimaknai sebagai ibadah, mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan.

Dirinya juga mengingatkan bisa terjadinya potensi perpecahan di Indonesia, seperti halnya negara-negara di Timur Tengah, namun Indonesia beruntung memiliki Bung Karno yang mampu menjahit nilai-nilai nasionalisme dan religiositas.

"Pada diri Bung Karno, kita bisa menemukan bahwa antara rasa kebangsaan dan ketaatan pada agama tidaklah bertentangan. Tugas kita tinggal meneruskan, membangun, mengisi kemerdekaan ini," kata dia.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)