logo rilis
Rupiah Terdepresiasi Sampai 1,24 Persen, BI: Masih Wajar
Kontributor
Ainul Ghurri
28 Maret 2018, 19:01 WIB
Rupiah Terdepresiasi Sampai 1,24 Persen, BI: Masih Wajar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W Martowardojo usai peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2017 di Jakarta, Rabu (28/3/2018). FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Jakarta— Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W Martowardojo mengatakan, poin to poin nilai tukar rupiah awal tahun dan akhir tahun telah terdepresiasi 0,71 persen. Sedangkan, jika dilihat dari 1 Januari sampai 6 Maret 2018, poin to poin depresiasi mencapai 1,24 persen. 

"Jadi kalau nilai tukar kita kemarin itu ditutup di kisaran Rp13.745 per dolar AS, kondisi itu lebih karena pengaruh dari eksternal," kata Agus usai peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2017 di Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Kecenderungan yield meningkat karena kebijakan perang dagang yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) direspon oleh Cina. Sehingga, itu menciptakan ketidak stabilan di ekonomi global, yang berpengaruh pada ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

"Tetapi kalau rupiah terdepresiasi 1,25 persen, itu betul-betul masih di batas yang wajar, kita juga tahu bahwa sebelumnya pernah tekanan itu membuat kondisi rupiah mencapai mungkin 1,6 persen depresiasi year to date, tetapi sekarang sudah kembali ke 1,25 persen," jelasnya.

Agus mengatakan, sepanjang 2018 terhitung Januari akhir, nilai tukar rupiah berada di level Rp13.200 per dolar AS, namun sekarang di kisaran Rp13.700 per dola AS. Hal ini masih dalam kondisi wajar, dan BI akan senantiasa ada di pasar untuk meyakinkan stabilitas nilai tukar rupiah itu dalam batas yang baik.

"Fluktuasinya atau volatilitasnya, tidak akan membuat masyarakat tidak percaya dengan nilai tukar rupiah. Jadi, kalau kemarin itu ada tekanan pada rupiah, lebih banyak karena dunia sedang menunggu keputusan dari rapat FOMC (Federal Open Market Commitee)," ungkap Gubernur BI yang akan mengakhiri jabatannya pada April 2018.

Selain itu, ekonomi Indonesia menunjukkan kondisi yang baik, di mana inflasi dan likuiditas terjaga. Namun, jika Mei menjelang Juni The Fed benar-benar menunjukkan sinyal kenaikan suku bunga acuannya, ada kemungkinan volatilitas kembali terjadi.

Ia menyatakan, bahwa kondisi itu jadi bagian yang harus dijalani, tetapi secara umum ekonomi dan stabilittas sistem keuangan Indonesia dalam keadaan baik. Sebagai informasi, sepanjang 2017 BI telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak 50 basis poin (bps) dari 4,75 persen menjadi 4,25 persen.

"Kita melihat, ruang untuk tingkat bunga sekarang itu sudah tidak besar. Tapi tentunya, BI akan merespon kebijakan makro prudensial untuk membuat bank-bank itu ekspansi lebih baik dan juga BI menjaga intermediasi dengan lebih baik, kita akan datang kebijakan seperti rasio intermediasi makro prudensial atau penyangga makro prudensial.


500
komentar (0)