logo rilis
Rupiah Tembus 14.000, Komisi XI Sebut Pemerintah Keliru Kelola Keuangan
Kontributor
Zul Sikumbang
08 Mei 2018, 11:53 WIB
Rupiah Tembus 14.000, Komisi XI Sebut Pemerintah Keliru Kelola Keuangan
Kurs Dolar Meroket. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Dolar AS kini diperdagangkan di kisaran Rp13.900, dan telah menembus di atas Rp14.000.

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan, pelemahan rupiah tidak melulu faktor internasional. Pemerintah tak boleh terus-terusan menggeser kesalahan internal menjadi faktor ekternal dan bukan juga dipolitisir. 

“Ini bukan melulu karena kebijakan The Fed, tapi juga karena pengelolaan domestik yang keliru,” kata Heri kepada rilis.id, Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Ditambahkannya, pengelolaan yang keliru di internal, yaitu soal yang disebut-sebut oleh pakar tentang account defisit, primary balance defisit, service payment defisit. 

Hal tersebut bermula dari kesulitan pemerintah menghindari atau menekan defisit keseimbangan primer (primary balance defisit) yang berimbas kepada defisit APBN (account defisit) dan defisit pembayaran.

“Untuk diketahui, utang jatuh tempo sekitar Rp800 triliun pada tahun ini dan tahun depan telah menjadi penyebab defisitnya keseimbangan primer kita. Di sisi lain, pertumbuhan realisasi penerimaan pajak dalam tiga tahun terakhir hanya empat persen, tidak sebanding dengan kenaikan kewajiban utang,” kata dia.

Anggota DPR RI asal Sukabumi itu menambahkan, defisit keseimbangan primer itu disebabkan oleh defisit anggaran (account defisit) yang semakin lebar. Ketika defisit anggaran melebar, artinya ada belanja yang tidak bisa ditutupi oleh pendapatan negara. Defisit itulah yang kemudian ditutup oleh penambahan utang baru, utang setiap tahun bertambah lebih dari Rp430 triliun.

“Keseimbangan primer merupakan total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Apabila keseimbangan primer negatif atau defisit, pemerintah harus menerbitkan utang baru untuk membayar pokok dan bunga utang lama, atau gali lubang tutup lubang, utang Pemerintah ahir Maret 2018 meroket jadi Rp4.136 triliun dengan tax ratio 9.9 persen, turun setiap tahunnya,” ucap politisi Partai Gerindra itu.

Sejak 2012 hingga 2017, keseimbangan primer terus mencatat defisit dengan nilai yang kian meningkat. Pada tahun ini, keseimbangan primer ditargetkan masih negatif atau minus Rp78,35 triliun. Pada ujungnya, defisit keseimbangan primer itu akan menguras habis cadangan devisa kita untuk membayar hutang (service payment defisit) sehingga berimbas pada rupiah yang makin terpuruk.

“Pada tahun 2011 rasio antara pembayaran cicilan pokok plus bunga dibagi dengan penerimaan pajak masih 25,6 persen. Namun sejak 2016 naik menjadi 31 persen. Ini artinya, penerimaan pajak untuk membayar bunga utang dan cicilan pokok sudah menguras 31 persen dari total penerimaan pajak, dengan tax ratio,” sebutnya

Karena itu, Kunci mengatasi pelemahan rupiah adalah membenahi tiga ancaman defisit tersebut dan tidak melulu menggeser masalah pada faktor eksternal. 

“Sangat disayangkan adalah meski keuangan negara sudah bisa dikatakan lampu kuning akibat membengkaknya utang dan terjadinya bermacam defisit seperti defisit anggaran, neraca kesimbangan primer, neraca perdagangan, dan neraca transaksi berjalan, namun pemerintah selalu mengungkapkan keuangan negara masih aman. Sekali lagi, benahi!” tukas Heri.

Editor: Sukardjito


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)