logo rilis
Rupiah Nyungsep, Bukti Elektabilitas Jokowi 'Jadi-jadian'
Kontributor
Nailin In Saroh
09 Mei 2018, 18:23 WIB
Rupiah Nyungsep, Bukti Elektabilitas Jokowi 'Jadi-jadian'
FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Puyuono menyebutkan, elektabilitas Joko Widodo yang anjlok di Survei INES akhirnya terjawab pasar keuangan internasional. Sebab, menurutnya, jawaban real masyarakat terhadap kinerja ekonomi pemerintahan Jokowi terbukti dengan terpuruknya rupiah.

Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus pada kisaran Rp14.073 rupiah per dolar. Ini artinya, menurut Arief, kepercayaan para pelaku pasar keuangan global sangat mempercayai hasil survei INES dibandingkan survei-survei yang melambungkan tingkat elektabilitas Jokowi.

"Hingga ngos-ngosan Bank Indonesia melakukan intervensi terhadap nilai kurs dolar yang makin perkasa 'memblejeti' kampanye propaganda dengan elektabilitas Joko Widodo menggunakan lembaga survei yang katanya kredibel, tapi pada ngawur hasil surveinya saat pilkada DKI Jakarta 2012 dan 2017," ujar Arief kepada rilis.id di Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Arief melanjutkan, terbukti sudah jika elektabilitas Jokowi hanya 'jadi-jadian'. Sebab, jika elektabilitasnya tinggi sejak akhir tahun 2017 hingga saat ini, tentu saja punya pengaruh besar terhadap menguat nilai kurs rupiah terhadap dolar AS.

"Jika memang bukan jadi-jadian elektabilitas Joko Widodo, pasti pelaku pasar modal dan investor akan lebih percaya dengan akan terpilihnya kembali Joko Widodo. Sehingga keberlangsungan bisnis mereka di Indonesia dalam 6 tahun ke depan bisa diprediksi dengan perencanaan yang baik yang berhubungan dengan kinerja pemerintah," bebernya.

Tapi nyatanya, tambah Arief, elektabilitas Jokowi yang katanya tinggi justru direspons dengan nilai kurs rupiah yang makin 'nyungsep'. Serta sudah mulai terjadi capital flight alias 'mbah Gondrong (USD) pulang kampung'.

"Utang dalam bentuk dolar AS makin numpuk di era Joko Widodo. Katanya juga arus modal asing terus membanjir. Secara teori ekonomi, harusnya rupiah menguat hingga di bawah Rp10 ribu per USD, tapi kok ini tidak? Cuma bohong-bohong aja tuh data ekonomi Pemerintah," tegasnya.

Editor: Eroby JF


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)