logo rilis
Rupiah Menguat di Akhir Mei, Kembali Terpuruk di Akhir Juni 2018
Kontributor
RILIS.ID
18 Mei 2018, 14:45 WIB
Rupiah Menguat di Akhir Mei, Kembali Terpuruk di Akhir Juni 2018
FOTO: Istimewa

Oleh Ir. Bagus Panuntun MBA, CFP, CPEP
Financial Astrologer

Meneruskan bagian 2 dari tulisan kami sebelumnya seputar masalah ekonomi pada saat Pilpres 2019 (Baca: Pilpres 2019 Berlangsung Keras, Bursa Saham Melemas), topik yang kami ketengahkan kali ini adalah seputar pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD)-rupiah (IDR).

Sehubungan dengan tingginya ketidakpastian akibat terorisme dan kenaikan suku bunga dari Federal Reserve Bank (Bank sentral Amerika), maka kami mencoba membuat prediksi pergerakan kurs tukar USD-IDR dari bulan ke bulan sampai dengan akhir semester 1 tahun 2018, prediksi nilai tukar beserta rationale-nya dari Mei-Juni 2018 juga kami sertakan pada bagian akhir tulisan ini.

Dampak Naiknya Kurs Dolar AS terhadap Rupiah
Salah satu dampak langsung dari melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS adalah berpotensi melemahnya arus investasi asing yang masuk ke Indonesia. Tentunya dalam berinvestasi, para investor asing menggunakan standar-standar investasi berupa Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Discounted Free Cash Flow (DCFCF), dan sebagainya yang pada umumnya berdasarkan nilai tukar dolar AS yang otomatis nilainya akan ambles seiring dengan terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Akibat lain yang cukup signifikan adalah meningkatnya cash-flow pressure pada perusahaan lokal yang memiliki pinjaman dolar tanpa hedge. Beberapa perusahaan lokal yang mengambil pinjaman berupa Medium Term Notes (MTN), Bonds, atau instrumen utang lainnya dalam mata uang dolar tanpa mengombinasikannya dengan Currency and Interest Rates Swaps (CIRS) tentunya akan mengalami cukup kesulitan dalam mengatur pengembalian pinjamannya pada saat dolar bergetar.

Akibat tidak langsung lainnya adalah potensi upward pressure pada bunga (interest) pinjaman bank lokal. Hal ini terutama jika kenaikan nilai dolar diakibatkan secara langsung atau tidak langsung oleh kenaikan risk-free-rate instruments, seperti Wall-Street-Journal Prime yang menjadi base rate lending para Bankir di AS.

Tentunya jika kenaikan terjadi pada base lending rate antarbank di Indonesia, akan menghambat pertumbuhan perekonomian di Indonesia secara umum, yang tanpa kenaikan suku bunga pun masih cukup lamban. Juga banyak dampak lainnya, seperti margin para importir yang akan tergerus dengan naiknya nilai tukar dolar-rupiah, dan sebagainya.

Sebab Kenaikan Dolar secara Global
Kenaikan dolar kali ini yang terjadi pada skala global diakibatkan secara langsung atau tidak langsung oleh berakhirnya program Quantitative Easing (QE) Federal Reserve Bank di AS pada Oktober 2014 silam. Sebagai catatan, Oktober 2014 adalah bulan saat dilantiknya Presiden Joko Widodo menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia. Untuk dapat melihat secara visual efek dari penghentian program QE versus nilai global dolar, secara mudah hal ini disajikan pada grafik 1 di bawah.

Grafik 1 Program Quantitative Easing (QE), Pelantikan Presiden Jokowi, Melesatnya Dolar dan Titik Tumpu Nilai Dolar Global

Pada grafik 1 di atas dapat dilihat dengan sangat mudah bahwa sesaat setelah program QE diakhiri pada 2014, secara langsung direspons oleh pasar dengan penguatan nilai dolar secara global. Pemerintah AS memulai program QE pada 2008 sebagai respons dari kasus Lehman Brother dan Junk Bonds yang impact-nya memicu krisis keuangan global. 

Saat ini, nilai USD Index bertengger di atas titik tumpu 4 di grafik 1. Jika ditarik garis lurus, titik tumpu 4 tersebut menyentuh titik 1, 2, dan 3. Hal ini adalah fenomena alam di mana garis 1, 2, 3 dan 4 menjadi support and resistance line yang dapat menjadi indikasi nilai natural valuation support mata uang dolar AS relatif terhadap mata uang dunia lainnya.

Maka berdasarkan pemeriksaan yang dapat dengan mudah dilakukan secara visual, tentunya dapat ditentukan perkiraan support nilai terendah dolar terhadap rupiah pada saat ini tahun 2018 (yaitu sekitar Rp12,000 per dolarnya), sama dengan nilai tertinggi dolar 10 tahun lalu, yaitu pada sekitar 2009 dan 2010!

Dolar AS setelah Program QE Dihapuskan 
Walaupun secara umum penguatan/pelemahan mata uang dolar AS memiliki impact yang sama terhadap kebanyakan mata uang dunia karena efek QE yang kami sebutkan di atas, akan tetapi kita harus dapat memisahkan antara penguatan dolar itu sendiri secara global, dan efek khususnya terhadap rupiah.

Dolar AS mulai diberlakukan secara resmi oleh Kongres AS pada 21 February 1857, atau dikenal dengan nama "Coinage Act". Setelah tanggal tersebut, US$ menjadi mata uang resmi yang diterima di level domestik dan internasional. 

Pada saat program QE diakhiri Oktober 2014, planet tahunan yang bekerja adalah Uranus, yang merupakan planet yang menjadi indikator "perubahan", dan planet bulanan adalah Venus. Seperti digambarkan pada gambar 2 di bawah, kedua planet tersebut memiliki aspek yang harmonis terhadap Jupiter, dan Matahari. Pada lunation yang terjadi pada 24 September 2014, terlihat Natal Venus juga memiliki aspek trine (atau 120 derajat) dengan bulan dan Uranus.

Gambar 2, Program QE dihentikan tahun 2014

Siklus 60 tahunan Dolar AS 
Salah satu alat yang digunakan oleh financial astrologer (astrolog keuangan) adalah "secondary declination of the moon (SMD)" yang biasanya digunakan untuk memetakan pada siklus mana sebuah ekonomi/entitas/mata uang berada seiring berjalannya waktu.

Khusus untuk dolar AS, siklus yang berulang setiap 27.5 tahun tersebut, diperlihatkan pada gambar 3 di bawah. Yang dapat cukup diperhatikan dari siklus tersebut adalah konsep bahwa sejarah berulang (history repeats). Dari pengulangan sejarah itulah maka astrolog keuangan memberikan proyeksi-proyeksinya.

Gambar 3 Secondary Moon Declination Dolar AS

Dari gambar 3 di atas dapat terlihat, tahun 2014 kurang lebih merupakan pengulangan siklus tren dolar AS tahun 1987. Dan tahun 2008 merupakan pengulangan tahun 1981. Masing-masingnya berjarak 27 tahun. Pada tahun 1987 dan tahun 2014, saat itu SMD dolar AS tepat menyentuh Midheaven, bertepatan dengan perekonomian AS yang baru keluar dari resesi dan siklus ekspansi ekonomi baru dimulai. Pada tahun bersamaan tren dolar AS juga merambat naik seiring dengan meningkatnya kepercayaan dunia terhadap ekspansi perekonomian AS.

Sebaliknya pada tahun 1981 dan tahun 2008, saat SMD dolar AS menyinggung lintasan Uranus dan Ascendant yang dalam bahasa langit dapat diartikan "dengan turbulensi tinggi", maka perekonomian AS pun memasuki masa-masa kelamnya yang ditandai dengan meletusnya gelembung pinjaman rumah (mortgage loans) pada 2008, dan meletusnya gelembung suku bunga yang diakibatkan oleh krisis energi pada 1981!

Prediksi Dolar AS terhadap Rupiah bulan Mei dan Juni 2018
Dari lintasan sejarah dan faktor dinamika planetary combination yang akan datang maka proyeksi dolar AS tahun 2018, terutama Mei dan Juni, adalah sebagai berikut.

Sesuai dengan tanggal diimplementasikannya "Coinage Act" oleh Kongres AS pada 21 Februari 1875, planet yang menjadi fokus pada 2018 adalah Matahari (Sun). Solar Return pada 2018, menunjukkan berkonjungsinya Matahari, Merkurius, Venus dan Neptunus pada sektor ke-10 yang menunjukkan kepemimpinan (leadership) dari dolar AS terhadap mata uang dunia lainnya.

Dapat dicatat, kebanyakan planet dalam Solar Return juga berada di atas garis horizon, yang menunjukkan dolar AS berada pada siklus full-control of its own destiny. Tentunya, kombinasi ini semua merujuk kepada sentimen strong bullish.

Gambar 4 lunar return Dolar AS vs Rupiah

Pada Mei 2018 ascendant mengalami perubahan dari Taurus yang memiliki elemen earth (bumike Aquarius dengan unsur air (udara). Sementara planet kunci, Uranus, mengalami tantangan (square) yang cukup berat dari beberapa planet yang cukup dominan, seperti Pluto, dan Mars. Karena itu, kami proyeksikan nilai dolar AS akan melemah relatif terhadap rupiah dengan kurs target nilai dolar/rupiah sebesar Rp13,750 per dolarnya pada akhir Mei 2018.

Sementara itu, data pertengahan tahun, seperti Jobless Claims, dan Mortgage Application AS akan dipublikasikan pada pertengahan s/d akhir Juni 2018. Data tersebut tampaknya akan cukup menggembirakan sehingga akan memperkuat sentimen pasar terhadap dolar AS, yang otomatis akan diiringi oleh pelemahan rupiah. 

Ascendant Leo dan planet kunci Venus juga akan mendapatkan support dari Mercury, Jupiter dan Neptunus. Prediksi nilai tukar dolar-rupiah akan mencapai Rp14,250 per dolarnya pada akhir Juni 2018.

Sebagai tambahan prediksi kami tahun lalu untuk mata uang JPY (Japanese Yen) terhadap IDR juga kami publikasikan dan dapat dilihat pada link berikut ini: (http://fiskal.co.id/berita/fiskal-14/6776/prediksi-astrologi-nilai-mata-uang-yen-jepang-terhadap-rupiah-di-2017-(english)#.WvjiF2iFNnI)

Demikian uraian singkat kami mengenai potensi pergerakan dolar-rupiah untuk Mei dan Juni 2018, semoga bermanfaat bagi para pelaku pasar.

Wallahualam bissawab


500
komentar (0)