logo rilis

Rupiah Kembali Melemah 
Kontributor
Kurnia Syahdan
30 April 2018, 09:54 WIB
Rupiah Kembali Melemah 
Ilustrasi mata uang rupiah. FOTO: Instagram/@sel_icious

RILIS.ID, Jakarta— Nilai tukar rupiah pada Senin (30/4/2018) pagi bergerak melemah sebesar sembilan poin menjadi Rp13.867 dibanding posisi sebelumnya, Rp13.858 per dolar AS pada Minggu (29/4/2018) kemarin.

Nilai tukar rupiah ini masih melemah sejak 20 April lalu, yaitu Rp13.804 per dolar AS.

Bahkan, rupiah pernah mencapai angka tertinggi Rp13.930 pada 26 April 2018 lalu.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Achmad Hafisz Tohir, mengatakan risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat harus diwaspadai. 

Baik karena kenaikan harga minyak dunia atau kemungkinan arus keluar pasar SBN dan saham Indonesia.

Politisi PAN itu juga mengingatkan sejumlah gejolak global seperti dampak kenaikan suku bunga AS dan perang dagang AS-China.

"Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan, baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus berjalan," paparnya

Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan pihaknya tak menutup peluang untuk menaikkan suku bunga acuan. 

Hal itu menurutnya, bisa dianggap sebagai jawaban atas persoalan kurs atau nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS.

"Jadi kalau Bank Indonesia bilang kita tidak akan menghindar, tidak menutup peluang untuk menaikkan suku bunga kalau perlu, ya memang jawabannya kira-kira itu," kata Darmin Nasution.

Darmin menjelaskan, situasi perkembangan global, khususnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diprediksi semakin membaik memberikan dampak yang luas, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Karena menurutnya, terkoreksinya nilai kurs rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir berawal dari prediksi pertumbuhan ekonomi AS yang semakin membaik tersebut.

"Kalau dia membaik maka bisa diperkirakan bahwa tingkat bunganya akan naik empat kali, padahal yang baru di-price-in oleh market baru tiga. Jadi hampir pasti dia akan naik empat kali tahun ini ke depan," ujarnya.

Dia sendiri menekankan perlunya ada adjustment dari pihak Indonesia untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. 

"Ya memang perlu, kalau dibiarkan kurs seperti ini, itukan bukan pilihannya membiarkan kurs atau bunga yang bergerak itu namanya adjustment, keseimbangan baru namanya," katanya.

BI sendiri sudah menyatakan tidak menutup ruang untuk menaikkan suku bunga acuan BI rate. 

Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan yang berkisar 0,25 bps saja tidak akan berpengaruh terhadap target-target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah ditetapkan sebelumnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)