logo rilis
Rupiah Jeblok, Gimana Dampak Turun Tangan Bank Indonesia?
Kontributor
Elvi R
11 Mei 2018, 15:27 WIB
Rupiah Jeblok, Gimana Dampak Turun Tangan Bank Indonesia?
Penukaran Valas. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, pekan trading ini tidak menyenangkan bagi mata uang pasar berkembang, karena terpukul oleh apresiasi Dolar dan risiko geopolitik.

Rupiah merosot ke level terendah sejak Desember 2015 yaitu Rp14.085 per dolar AS. Ini terus terjadi walaupun Bank Indonesia mengintervensi untuk mempertahankan kurs Rupiah. 

"Bank Indonesia mengatakan bahwa 'sedang mempersiapkan langkah kebijakan moneter yang tegas dan konsisten' sehingga muncul spekulasi bahwa BI akan meningkatkan suku bunga," ungkap Lukman dalam keterangan pers yang diterima rilis.id, di Jakarta, Jumat (11/5/2018)

Meski demikian, Rupiah masih berisiko semakin turun, terutama karena Dolar diperkirakan dapat terus menguat didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana USDIDR bereaksi di atas level psikologis Rp14.000. Dolar yang menguat dapat mengantarkan USDIDR menuju Rp14.100 di waktu dekat.

Dilansir dari LKBN ANTARA, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam dua hari terakhir mengeluarkan dua pernyataan yang mengisyaratkan peluang sangat besar kenaikan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate pada Mei 2018 ini setelah anjloknya rupiah yang melewati batas fundamentalnya.

"Bank Indonesia memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan 7 Days Reverse Repot Rate," kata Agus di Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Agus menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Bank Sentral, kata Agus, akan secara tegas dan konsisten mengarahkan kebijakan moneter untuk menciptakan stabilitas perekonomian.

"Respon penyesuaian suku bunga akan dijalankan secara konsisten dan pre-emptive untuk memastikan keberlangsungan stabilitas," ujar dia.

Pernyataan senada juga telah dikeluarkan Agus pada Rabu malam (9/5). Agus menegaskan sedang menyiapkan kebijakan moneter yang tegas, termasuk penyesuaian suku bunga kebijakan 7-day Reverse Repo Rate di tengah depresiasi rupiah yang sebesar 3,44 persen hingga 8 Mei 2018 (year to date) secara tahun berjalan.

Agus mengakui hingga Jumat ini, tantangan ekonomi global semakin deras. Tantangan itu di antaranya peningkatan suku bunga di Amerika Serikat, meningkatnya harga minyak dunia, serta menguatnya risiko geopolitik sebagai akibat meningkatnya tensi sengketa dagang AS-Tiongkok dan pembatalan kesepakatan nuklir AS-Iran.

Sejak 1-9 Mei 2018, Rupiah melemah 1,2 persen (month to date), Thai Bath 1,76 persen (mtd), dan Turkish Lira 5,27 persen (mtd). Sementara itu, hingga 9 Mei dari 1 Januari 2018, Rupiah melemah 3,67 persen (year to date/ytd), Pilipina peso 4,04 persen (ytd), India Rupee 5,6 persen (ytd), Brazil Real 7,9 (ytd), Russian Rubel 8,84 (ytd), dan Turkish Lira 11,42 (ytd).

Agus juga mengatakan Bank Sentral akan tetap konsisten mendorong berjalannya mekanisme pasar secara efektif dan efisien, sehingga ketersediaan likuiditas baik di pasar valuta asing dan pasar uang tetap terjaga dengan baik.

"Operasi moneter di pasar valuta asing tetap akan dilakukan untuk meminimalkan volatilitas nilai tukar. Operasi moneter di pasar uang akan terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah yang memadai dan terjaganya stabilitas suku bunga di pasar uang," jelas Agus.

Suku bunga acuan BI saat ini sebesar 4,25 persen. Sudah dalam sembilan kali Rapat Dewan Gubernur bulanan, BI mempertahankan suku bunga acuan tersebut dengan arah kebijakan moneter yang bersifat netral dan akomodatif.

RDG BI untuk menentukan suku bunga acuan akan digelar pada 16-17 Mei 2018 pekan depan, sekaligus menjadi rapat bulanan terakhir bagi Agus Martowardojo yang akan digantikan Mantan Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo pada 24 Mei 2018.
 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)