logo rilis

Rupiah Berpotensi Menguat, asalkan...
Kontributor
Elvi R
04 Mei 2018, 13:00 WIB
Rupiah Berpotensi Menguat, asalkan...
Penukaran Valas. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, Rupiah berpotensi menguat apabila keyakinan konsumen Indonesia semakin membaik. Walau begitu, peningkatan kurs Rupiah mungkin terbatas oleh faktor eksternal. 

"Karena Dolar dapat terangkat oleh prospek kenaikan suku bunga AS dan naiknya ekspektasi inflasi, mata uang pasar berkembang termasuk Rupiah mungkin tetap tertekan," ujar Lukman, dalam siaran pers yang diterima rilis.id, di Jakarta, Jumat (4/5/2018). 

Dia menjelaskan, Dolar AS yang menguat secara agresif dapat memaksa Bank Indonesia untuk meningkatkan suku bunga acuan demi menyelamatkan Rupiah.

Terkait prospek forex, Rupiah stabil terhadap Dolar AS dan harga bergerak mendekati Rp13.935 pada saat laporan ini dituliskan. 

"Dengan peningkatan antisipasi menjelang rilis NFP AS di hari Jumat, USDIDR dapat mengalami volatilitas lebih tinggi," ungkap Lukman.

Meski Rupiah stabil, Lukman menambahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah menjelang rilis laporan Keyakinan Konsumen Indonesia bulan April.

Seperti diketahui, dikutip dari LKBN ANTARA IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (4/5/2018) dibuka melemah 11,99 poin dipicu sentimen eksternal.

IHSG BEI dibuka melemah 11,99 poin atau 0,20 persen ke posisi 5.846,74. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 2,78 poin (0,30 persen) menjadi 931,17.

Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan, pasar saham masih dibayangi kecemasan terhadap ketidakpastian perang dagang, sementara katalis positif relatif masih terbatas.

"Bursa global, termasuk IHSG terbebani oleh sentimen perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Hal ini membawa potensi koreksi," katanya.

Selain itu, negara di kawasan Eropa juga sedang mempersiapkan langkah atas kebijakan yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pengenaan tarif pada baja dan alumunium terhadap blok Uni Eropa.

Pergerakan bursa saham juga terbebani oleh The Fed yang tidak memberi petunjuk lebih jelas tentang kenaikan suku bunganya pada 2018 ini.

Di sisi lain, lanjut Nico, pasar saham Indonesia juga dibayangi sentimen penguatan harga minyak dunia. Hal itu akan berdampak pada potensial terjadi perubahan pada struktur APBN.

Kendati demikian, menurut dia, di luar sentimen itu, fundamental ekonomi Indonesia relatif baik dan stabilitasnya masih terjaga.

Bursa regional, di antaranya indeks Shanghai turun 1,62 poin (0,05 persen) ke 3.099,24, indeks Hang Seng melemah 246,67 poin (0,81 persen) ke 30.066,69, dan Straits Times melemah 28,17 poin (0,79 persen) ke posisi 3.547,51.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)