logo rilis
Rumus Berantas Kemiskinan ala Menteri Amran
Kontributor
Fatah H Sidik
22 Mei 2018, 13:06 WIB
Rumus Berantas Kemiskinan ala Menteri Amran
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman (kanan) berbincang dengan penerima bantuan Program Bekerja berupa kambing di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Selasa (22/5/2018). FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Bondowoso— Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, berkeyakinan, angka kemiskinan di Bondowoso, Jawa Timur, akan menjadi satu digit dalam tempo 6-12 bulan. Ada tiga rumusnya.

"Sangat sederhana rumusnya. Pertama, bekerja. Kedua, bekerja. Ketiga, berdoa. Pasti berhasil," ujarnya saat peluncuran Program Berantas Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Selasa (22/5/2018).

Karenanya, Menteri Amran, meminta masyarakat prasejahtera yang menerima bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan). Sebab, bantuan berupa ternak maupun tanaman disebutnya sebagai solusi permanen "berangus" kemiskinan.

Ayam kampung, misalnya. Kata pembantu Presiden asal Bone ini, bisa bertelur sejak umur enam bulan dan berproduksi sepanjang hari hingga dua tahun.

"Ini (ayam) bisa melepaskan kemiskinan, kenapa? Kalau harganya (per telur) Rp1.000-Rp1.500, kita bisa dapat Rp50 ribu-Rp75 ribu," urainya.

"Kalau bertelur dan jadi ayam lagi, bisa lebih besar pendapatannya," imbuh Menteri Amran. Tiap rumah tangga prasejahtera mendapatkan 50 ekor ayam.

Masyarakat prasejahtera juga menerima bantuan bibit kopi, sesuai keunggulan komparatif Bondowoso. "Enggak usah berikan tanaman lain, kopi saja. Kita jadikan republik kopi," ucapnya.

Menurut pembantu Presiden asal Bone itu, pendapatan dari kopi cukup menjanjikan. Tiap hektarenya sekira Rp220 juta per tahun atau setara Rp20 juta tiap bulan. "Karena kepemilikan lahan petani 0,3 hektare, berarti Rp6 juta per bulan," lanjutnya.

Menteri Amran berharap, bantuan sekira 500 ribu batang kopi dapat mendorong industri di Bondowoso. "Mungkin tiga tahun ada industri," tutupnya.

Editor: Elvi R


komentar (0)